Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Perjalanan panjang Kelompok Dalem Mandiri Sejahtera (Mpok Damira) dalam mengelola sampah berbasis masyarakat di Bojonegoro kini dibukukan. Kisah itu dibedah dalam diskusi dan diseminasi buku “Bersama Mengelola Bersama Sejahtera” yang digelar IDFoS Indonesia di Creative Room Pemkab Bojonegoro, Senin (18/5/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi, komunitas peduli lingkungan, perwakilan perusahaan, pemerintah daerah, hingga pengelola sampah berbasis masyarakat. Buku itu memuat praktik kolaborasi multipihak dalam pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat.
Buku sejumlah 99 halaman ini ditulis oleh tiga pemilik jari cekatan, yakni Joko Hadi Purnomo, Ahmad Muhajirin, dan Rizal Zubad Firdaus. Karya yang didukung penuh oleh SKK Migas dan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), berikutut Pemdes Ngumpakdalem, disuntung oleh editor H. A. Hakam Sholahuddin.
Salah satu penulis buku, Dr. Joko Hadi Purnomo, menjelaskan Mpokdamira lahir dari proses panjang pemetaan dan pemicuan masyarakat sejak 2015. Saat itu, tim mencoba membangun kesadaran warga terhadap persoalan sampah di lingkungan mereka.
"Setelah dilakukan pemetaan, masyarakat mulai tahu titik-titik timbunan sampah dan dampaknya. Dari situ kami melakukan pemicuan agar muncul kesadaran bahwa sampah adalah persoalan bersama," ujarnya.

Penulis lain, Rizal, menyebutkan bahwa kelompok tersebut resmi terbentuk melalui musyawarah warga pada 20 Mei 2015. Namun perjalanan mereka tidak berjalan mulus. Dua bulan setelah terbentuk, dana operasional habis dan sejumlah pengurus mulai mundur karena pengelolaan sampah belum menghasilkan pendapatan pasti.
"Kami pernah berada di titik tidak tahu bulan depan dapat biaya operasional dari mana. Tapi kelompok ini tetap memilih berjalan," tutur Rizal.
Dalam forum itu, Ahmad Muhajirin juga menceritakan bagaimana pandemi COVID-19 menjadi titik balik keberlangsungan kelompok. Saat volume sampah rumah tangga meningkat, masyarakat mulai bersedia membayar iuran pengelolaan sampah.
Dari iuran warga dan hasil penjualan sampah pilah, Mpokdamira perlahan mampu bertahan. Bahkan kelompok tersebut berhasil mendirikan bank sampah di kawasan perumahan dan terus menjalankan layanan pengelolaan sampah hingga sekarang.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kelompok berbasis masyarakat bisa survive meski penuh keterbatasan. Perjalanan itu yang kami tulis di buku ini," tandas Rizal.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Luluk Alifah, yang turut hadir dalam kegiatan itu mengatakan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Ia menyebut produksi sampah di Kabupaten Bojonegoro saat ini mencapai sekitar 568 ton per hari.
"Ini tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendiri. Harus ada kolaborasi masyarakat, komunitas, akademisi, dan perusahaan untuk mengelola sampah dari sumbernya," ungkapnya.
Luluk menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah, sekolah, kantor, hingga lingkungan usaha. Menurutnya, pengelolaan sampah organik di tingkat sumber menjadi langkah penting untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).
Selain diskusi, kegiatan juga menjadi ruang berbagi pengalaman antar komunitas dan pegiat lingkungan terkait tantangan pengelolaan sampah di lapangan. IDFoS Indonesia berharap buku tersebut dapat menjadi referensi sekaligus inspirasi bagi kelompok masyarakat lain dalam membangun tata kelola sampah berbasis kolaborasi. [feb/mad]
Kami informasikan apabila ada masalah akun Indodax, Anda.Hb.Wa (0877-2202-1350)layanan kami di Email : support@indodax.com, TLP. (021) 5065-8888 dan Fitur Live Chat pada Tim. dan Website Indodax.
Kami informasikan apabila ada masalah akun Indodax, Anda.Hb.Wa (0877-2202-1350)layanan kami di Email : support@indodax.com, TLP. (021) 5065-8888 dan Fitur Live Chat pada Tim. dan Website Indodax.