Reporter: Nidhomatur, MR
blokBojonegoro.com - Cendikiawan Muslim Indonesia yang juga Mantan Menteri Agama, Muhammad Quraish Shihab, menegaskan bahwa Islam mengajarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Melalui pendekatan ekoteologi, manusia dipandang sebagai bagian dari sistem ciptaan Tuhan yang harus dijaga keseimbangannya.
Hal tersebut disampaikan Quraish Shihab dalam tausiyah pada acara silaturahmi Menteri Agama dengan pimpinan ormas Islam di Kediaman Dinas Menteri Agama, Jakarta, kemarin.
Menurutnya, perhatian Islam terhadap alam sangat kuat dan tercermin dari banyaknya ayat dalam Al-Qur'an yang berbicara tentang lingkungan.
“Dalam Al-Qur’an, ayat yang berkaitan dengan hukum mungkin hanya sekitar dua ratus sampai tiga ratus ayat. Tetapi yang berbicara tentang alam dan lingkungan jumlahnya jauh lebih banyak, bisa mencapai sekitar seribu ayat,” ujar Quraish Shihab.
Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggambarkan alam sebagai bagian dari sistem kosmik dalam kekuasaan Tuhan. Hal ini tercermin dalam firman Allah: “Milik-Nya apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah” (QS. Thaha: 6).
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia hidup di tengah keteraturan ciptaan Tuhan. Karena itu, manusia dituntut menjaga keseimbangan yang telah diciptakan-Nya.
Amanah Memakmurkan Bumi
Quraish Shihab menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, manusia tidak hanya diminta menjaga alam, tetapi juga memakmurkannya. Ia merujuk pada firman Allah dalam Surah Hud ayat 61 yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari bumi dan diberi amanah untuk memakmurkannya.
“Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari bumi dan ista’marakum fiha, menugaskan manusia untuk memakmurkannya. Artinya manusia tidak sekadar memanfaatkan alam, tetapi juga bertanggung jawab mengelolanya dengan bijaksana,” jelasnya.
Menurutnya, konsep tersebut menegaskan peran manusia sebagai khalifah di bumi yang harus menjaga keberlanjutan kehidupan.
Prinsip Keseimbangan Alam
Ia juga menyoroti prinsip keseimbangan yang menjadi dasar kehidupan alam semesta sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ar-Rahman. Dalam ayat tersebut disebutkan: “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Tumbuhan dan pepohonan tunduk kepada-Nya. Dan langit telah Dia tinggikan serta Dia letakkan keseimbangan agar kamu tidak melampaui batas dalam keseimbangan itu” (QS. Ar-Rahman: 5–8).
“Seluruh makhluk di alam menjalankan perannya dengan patuh. Matahari, bulan, tumbuhan, semuanya berada dalam keteraturan. Manusia seharusnya belajar dari keteraturan itu agar tidak merusak keseimbangan yang telah diciptakan Tuhan,” tuturnya.
Bumi sebagai Tempat Kehidupan Manusia
Quraish Shihab juga mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan bumi digambarkan secara mendalam dalam Al-Qur’an. Manusia berasal dari tanah, hidup di atas bumi, dan pada akhirnya kembali ke dalamnya.
Allah berfirman: “Dari bumi Kami menciptakan kamu, ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi” (QS. Thaha: 55).
“Bumi itu ibarat ibu kita. Dari bumi kita diciptakan, di bumi kita hidup, dan ke bumi pula kita kembali. Karena itu jangan sampai manusia durhaka kepada bumi,” ujar Quraish Shihab.
Kerusakan Lingkungan Ulah Manusia
Ia juga menyinggung berbagai krisis lingkungan yang terjadi saat ini. Menurutnya, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan alam sering kali disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat tersebut, kata Quraish Shihab, menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. “Manusia menikmati nikmat alam, tetapi sering lupa mensyukurinya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan firman Allah: “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya” (QS. Ibrahim: 34).
Menurutnya, kesadaran akan besarnya nikmat Tuhan seharusnya mendorong manusia untuk lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Menjaga Alam untuk Generasi Mendatang
Quraish Shihab menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya untuk kepentingan manusia saat ini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang. Ia mengutip pesan Nabi Muhammad yang menganjurkan seseorang tetap menanam pohon meskipun mengetahui kiamat akan segera terjadi.
“Itu menunjukkan bahwa menjaga kehidupan dan menanam kebaikan tetap harus dilakukan sampai kapan pun,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan firman Allah: “Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka” (QS. Al-Isra: 44).
Menurut Quraish Shihab, kesadaran bahwa seluruh makhluk merupakan ciptaan Tuhan yang bertasbih kepada-Nya akan menumbuhkan sikap hormat manusia terhadap alam. “Ketika manusia menyadari bahwa alam adalah makhluk Tuhan yang hidup dalam sistem ciptaan-Nya, manusia akan lebih berhati-hati memperlakukannya,” tandasnya. [lis/mu]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published