452 Embung dan Waduk di Bojonegoro Topang Ketahanan Air Pertanian
Sejumlah warga usai memancing ikan di Waduk Pacal Bojonegoro (Foto: Rizki Nur Diansyah)

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Hingga tahun 2025, Kabupaten Bojonegoro mencatat sebanyak 452 embung dan lima waduk telah tersebar di berbagai wilayah. Ratusan embung tersebut, menjadi penopang utama sektor pertanian dan peternakan, Sabtu (10/1/2026).

Pembangunan embung di Bojonegoro bukanlah program instan. Upaya ini telah dimulai sejak era kepemimpinan Bupati Suyoto yang menargetkan pembangunan 1.000 embung sebagai solusi jangka panjang menghadapi kekeringan. Sejak saat itu, jumlah embung terus bertambah secara konsisten dari tahun ke tahun.

Dihimpun dari Satu Data Bojonegoro mencatat, pada 2020 jumlah embung mencapai 404 unit, meningkat menjadi 413 unit pada 2021. Tren positif ini berlanjut pada 2022 dengan 421 embung, kemudian bertambah menjadi 426 embung di 2023. Memasuki 2024, jumlahnya kembali naik menjadi 433 embung yang mayoritas dibangun di wilayah rawan kekeringan.

Embung-embung tersebut berfungsi sebagai penampung air hujan yang vital untuk mengairi sawah, memenuhi kebutuhan ternak, serta menjadi cadangan air desa saat musim kemarau. Selain embung, Bojonegoro juga memiliki lima waduk yang memperkuat sistem ketahanan air daerah.

Pada 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro kembali menuntaskan pembangunan sembilan embung baru, sehingga total embung yang dimiliki mencapai 452 unit. Seluruh proyek tersebut dinyatakan rampung dan mencapai 100 persen secara fisik.

Kepala Bidang (Kabid) Air Baku Irigasi Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Bojonegoro, Bungku Susilowati mengungkapkan, sembilan embung baru dibangun di sejumlah lokasi strategis, yakni Kecamatan Kasiman, Padangan, Ngasem, Sumberrejo, Kedungadem, Sugihwaras, dan Balen.

Menariknya, beberapa embung bahkan memiliki kapasitas tampungan yang melampaui perencanaan awal. Embung di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, misalnya, mencatat volume realisasi hingga 8.204 meter kubik, sementara embung di Desa Siwalan, Kecamatan Sugihwaras, mencapai 8.718 meter kubik.

“Seluruh paket pekerjaan pembangunan embung ini telah mencapai target fisik 100 persen. Kami berharap infrastruktur ini segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama untuk mengairi lahan pertanian saat debit air sungai mulai menurun,” ungkap Bungku.

Sembilan embung yang rampung dibangun pada 2025 tersebut berada di Desa Ngaglik (Kasiman), Banjarejo (Padangan), Ngasem (Ngasem), Mlinjeng (Sumberrejo), Desa Duwel Paket 1 dan 2 serta Desa Kedungadem (Kedungadem), Siwalan (Sugihwaras), dan Kedungdowo (Balen).

Dengan capaian 452 embung hingga 2025, Bojonegoro kian optimistis menghadapi tantangan perubahan iklim, sekaligus meminimalkan risiko kekeringan dan gagal panen demi menjaga ketahanan pangan daerah. [riz/mad]