5 Jajanan Khas Bojonegoro, Di Tempamu Ada yang Mana?

Kontributor: Fadilah*

blokBojonegoro.com - Banyak jajanan khas yang bentuknya ringan atau camilan yang sudah turun temurun dibuat oleh warga Kabupaten Bojonegoro. Tergantung acara, jajanan tersebut disajikan. Namun, sekarang ini banyak diproduksi karena untuk dipasarkan ke lokasi-lakasi penjualan, seperti pasar, atau dititipan ke warung-warung. 

[Baca Juga: 5 SUNGAI TERPANJANG DI BOJONEGORO https://blokbojonegoro.com/2025/10/08/5-sungai-terpanjang-di-kabupaten-bojonegoro-ini-data-lengkapnya/]

Begitu banyak dan berapa jenis jajanan khas, bisa belasan sampai puluhan jumlahnya. Namun, redaksi InfoLimo blokBojonegoro.com hanya memilih 5 jajanan khas Kabupaten Bojonegoro.



- Gapit/Ledre

Ledre, makanan yang khas dari Kabupaten Bojonegoro. Produksi terbesarnya ada di Kecamatan Padangan. Namun, bahan dan bentuknya yang bulan memanjang, masyarakat di bantaran Sungai Bengawan Solo menyebut juga dengan gapit. Yang membedakan ledre sangat tipis dan halus, kalau gapit sedikit kasar dan lebih tebal.

Berbahan dasar tepung beras ketan, gapit menjadi jajanan khas masyarakat di Kabupaten Bojonegoro ketika mempunyai hajatan. Biasanya dipakai untuk suguhan di meja tamu dengan tempat toples besar. Namun, sekarang telah dipasarkan cukup beragam untuk oleh-oleh, baik yang gapit kluntung (gapit manis) maupun yang teplek (gapit asin). 

Untuk Gapit terbesar dan rekomendasi terenak produksinya ada di Desa Sarangan, Kecamatan Kanor, Bojonegoro. Juga ada di Desa Cangaan maupun Kabalan.



- Ladu

Pada tempo dulu, Ladu, jajanan warna merah dan putih yang terbuat dari bahan beras ketan ini sempat menjadi primadona. Khususnya menjelang datangnya bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, hampir setiap meja terdapat jajan Ladu yang ditaruh dalam toples kaca. Namun, jajanan berbentuk seperti kerupuk itu kini sudah semakin jarang dijumpai.

Di Kabupaten Bojonegoro, produksi utamanya ada di Desa Cangaan, Kecamatan Kanor. Hanya segelintir masyarakat saat ini yang masih mengenal jajanan Ladu. Kue khas tempo dulu yang kini keberadaannya mulai tergerus zaman, karena pembuatannya yang susah dan memakan waktu cukup panjang.



- Krupuk Abang Ijo 

Kerupuk Abang Ijo Bojonegoro atau juga dikenal dengan Kerupuk Klenteng diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) oleh Kementerian Kebudayaan tahun 2024.

Terbuat dari adonan tepung tapioka dicampur bahan perasa seperti udang atau ikan. Meski ada juga yang tanpa campuran apa-apa, kecuali garam. Secara umum proses pembuatan kerupuk dilakukan dengan cara mengukus adonan sampai matang, kemudian dipotong tipis-tipis, dikeringkan di bawah sinar matahari sampai kering kemudian digoreng. Namun ada juga dari adonan tepung tersebut yang kemudian dibentuk menggunakan mesin sehingga seperti segumpal mi yang saling membelit.

Krupuk Abang Ijo sangat cocok untuk pelengkap menemani makan, atau sekadar buat camilan ketika tengah bersantai.



- Keciput Wijen 

Lagi dan lagi, jajanan yang dulu sering ditemukan ketika ada hajatan maupun Hari Raya Idul Fitri, yakni keciput. Berbentuk bulat kecil dan ringan, serta berbalur wijen di seluruh bulatan. Saat ini, banyak dipasarkan di toko oleh-oleh maupun bisa memesan di pembuatnya langsung.

Keciput berbahan dasar tepung ketan dicampur tapioka, ditambah telur, mentega, garam, gula, santan kelapa dan setelah dibentuk bulat dibaluri wijen. Baru digoreng. 



- Unthuk Yuyu/Pertolo 

Terbuat dari tepung ketan, gula pasir, telur, mentega, santan, vanili dan ada yang ditambah wijen, adonan dibentuk ke tempat yang berlobang untuk menciptakan bentuk memanjang. Setelah itu ditata melingkar dan bertumpuk. 

Setelah jadi, adonan yang telah terbuntuk langsung digoreng ke minyak panas. Maka akan segera berubah mengembang dan berwarna kecokelatan. Di beberapa wilayah Bojonegoro, biasanya pertolo atau untuk yuyu dipakai ketika ada hajatan pernikahan. [mad]