Reporter: Nur Muharrom
blokBojonegoro.com - Akibat panjang dan lamanya antrean, maka jemaah haji yang berangkat ini dalam kondisi sudah berumur dan tidak sedikit yang kesehatannya tidak bugar. Tentunya hal ini berdampak pada kemampuannya untuk melaksanakan ritual Haji, semisal ketika melaksanakan tawaf.
Bagaimana hukum lansia melaksanakan tawaf menggunakan naik kursi roda atau sejenis skuter?
Berdasarkan keterangan ulama yang dilansir dari laman web Kemenag RI, hukum tawaf dengan menggunakan kursi roda adalah diperbolehkan, dengan dianalogikan bahwa tawaf dengan naik tunggangan. Lebih jauh, tidak ada khilaf di kalangan para ulama terkait keabsahannya. Karena ini berdasar pada hadist berikut ini;
عن أم سلمة قالت : ØØ¬Ø¬Øª مع رسول الله صلى الله عليه Ùˆ سلم ÙØ§Ø´ØªÙƒÙŠØª قبل أن أطو٠بالبيت Ùقال رسول الله صلى الله عليه Ùˆ سلم : ( اركبي ÙØ·ÙˆÙÙŠ راكبة وراء الناس ) وهو يصلي ØÙŠÙ†Ø¦Ø° إلى ØØ§Ø´ÙŠØ© البيت
Artinya: Dari Ummi Salamah, ia berkata, aku haji bersama Rasulullah, lalu aku mengeluh kepada beliau ketika akan tawaf. Kemudian Rasulullah bersabda: Naiklah, tawaflah berkendara di belakang rombongan. Rasulullah pada saat itu akan melaksanakan shalat di sisi ka’bah. (Mu’jam Tabrani Kabir, 24473).
Dari hadist di atas kemudian pata ahli fikih menjelaskan sebagai berikut:
لاَ Ø®ÙلاَÙÙŽ بَيْنَ الْÙÙقَهَاء٠ÙÙÙŠ ØµÙØÙ‘ÙŽØ©Ù Ø·ÙŽÙˆÙŽØ§ÙÙ Ø§Ù„Ø±Ù‘ÙŽØ§ÙƒÙØ¨Ù Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ كَانَ Ù„ÙŽÙ‡Ù Ø¹ÙØ°Ù’رٌ Ù„ÙØÙŽØ¯Ùيث٠أÙمّ٠سَلَمَةَ رَضÙÙŠÙŽ اللَّه٠عَنْهَا، قَالَتْ: شَكَوْت٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ رَسÙول اللَّه٠صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ أَنّÙÙŠ أَشْتَكÙÙŠ Ùَقَال: Ø·ÙÙˆÙÙÙŠ Ù…Ùنْ ÙˆÙŽØ±ÙŽØ§Ø¡Ù Ø§Ù„Ù†Ù‘ÙŽØ§Ø³Ù ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ†Ù’ØªÙ Ø±ÙŽØ§ÙƒÙØ¨ÙŽØ©ÙŒ
Artinya; Para ahli fikih sepakat bahwasanya sah bagi yang memiliki udzur (semisal sakit atau lansia) untuk tawaf dengan menggunakan kursi roda. Demikian ini berdasar pada hadis yang diriwayatkan oleh Ummi Salamah RA, bahwsanya beliau mengadu (ketidakmampuan untuk bertawaf) kepada Baginda Rasulullah Saw. Kemudian beliau Saw memerintahkan Ummu Salamah untuk berthawaf dengan menaiki tunggangan”.
Lalu bagaimana jika tidak ada udzur, kemudian melaksanakan tawaf dengan naik menggunakan kursi roda? Simak penjelasan berikut;
وَاخْتَلَÙÙوا ÙÙÙŠ ØÙكْم٠الطَّوَاÙÙ Ø±ÙŽØ§ÙƒÙØ¨Ù‹Ø§ بÙلاَ Ø¹ÙØ°Ù’ر٠Ùَذَهَبَ الشَّاÙÙØ¹Ùيَّة٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ أَنَّه٠لاَ ÙŠÙŽØ¬ÙØ¨Ù عَلَيْه٠دَمٌ Ù„ÙØÙŽØ¯Ùيث٠ابْن٠عَبَّاس٠رَضÙÙŠÙŽ اللَّه٠عَنْهÙمَا: Ø¥Ùنَّ النَّبÙيَّ صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ طَاÙÙŽ ÙÙÙŠ ØÙŽØ¬Ù‘َة٠الْوَدَاع٠عَلَى بَعÙÙŠØ±ÙØŒ يَسْتَلÙم٠الرّÙكْنَ بÙÙ…ÙØÙ’Ø¬ÙŽÙ†Ù. وَقَال Ø¬ÙŽØ§Ø¨ÙØ±: طَاÙÙŽ النَّبÙيّ٠صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ عَلَى رَاØÙلَتÙÙ‡Ù Ø¨ÙØ§Ù„ْبَيْت٠وَبَيْنَ الصَّÙَا وَالْمَرْوَةٔ.
وَلأÙَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ Ø¨ÙØ§Ù„طَّوَاÙÙ Ù…ÙØ·Ù’لَقًا ÙَكَيْÙَمَا أَتَى بÙÙ‡Ù Ø£ÙŽØ¬Ù’Ø²ÙŽØ£ÙŽÙ‡ÙØŒ وَلاَ يَجÙوز٠تَقْيÙÙŠØ¯Ù Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ·Ù’Ù„ÙŽÙ‚Ù Ø¨ÙØºÙŽÙŠÙ’ر٠دَلÙÙŠÙ„ÙØŒ ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ رÙوَايَةٌ عَنْ Ø£ÙŽØÙ’مَدَ. وَذَهَبَ الْØÙŽÙ†ÙŽÙÙيَّة٠وَالْمَالÙÙƒÙيَّة٠وَأَØÙ’مَد٠ÙÙÙŠ Ø¥ÙØÙ’Ø¯ÙŽÙ‰ الرّÙÙˆÙŽØ§ÙŠÙŽØ§ØªÙ Ø¹ÙŽÙ†Ù’Ù‡ÙØŒ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ أَنَّ الْمَشْيَ ÙÙÙŠ الطَّوَاÙÙ Ù…Ùنْ ÙˆÙŽØ§Ø¬ÙØ¨ÙŽØ§ØªÙ الطَّوَاÙÙØŒ ÙÙŽØ¥Ùنْ طَاÙÙŽ Ø±ÙŽØ§ÙƒÙØ¨Ù‹Ø§ بÙلاَ Ø¹ÙØ°Ù’ر٠وَهÙÙˆÙŽ Ù‚ÙŽØ§Ø¯ÙØ±ÙŒ عَلَى الْمَشْي٠وَجَبَ عَلَيْه٠دَمٌ، وَاسْتَدَلّÙوا عَلَيْهÙ: Ø¨ÙØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ النَّبÙيَّ صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ قَال: الطَّوَاÙÙ Ø¨ÙØ§Ù„ْبَيْت٠بÙمَنْزÙلَة٠الصَّلاَةÙ. وَلأÙَنَّ الطَّوَاÙÙŽ Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯ÙŽØ©ÙŒ ØªÙŽØªÙŽØ¹ÙŽÙ„Ù‘ÙŽÙ‚Ù Ø¨ÙØ§Ù„ْبَيْت٠Ùَلَمْ ÙŠÙŽØ¬ÙØ²Ù’ ÙÙØ¹Ù’Ù„Ùهَا Ø±ÙŽØ§ÙƒÙØ¨Ù‹Ø§ Ù„ÙØºÙŽÙŠÙ’Ø±Ù Ø¹ÙØ°Ù’Ø±Ù ÙƒÙŽØ§Ù„ØµÙ‘ÙŽÙ„Ø§ÙŽØ©ÙØŒ وَلأÙَنَّ اللَّهَ أَمَرَ Ø¨ÙØ§Ù„طَّوَاÙ٠بÙقَوْلÙÙ‡Ù: {وَلْيَطَّوَّÙÙوا Ø¨ÙØ§Ù„ْبَيْت٠الْعَتÙيقÙ}ØŒ ÙˆÙŽØ§Ù„Ø±Ù‘ÙŽØ§ÙƒÙØ¨Ù لَيْسَ Ø¨ÙØ·ÙŽØ§Ø¦ÙÙÙ ØÙŽÙ‚Ùيقَةً، Ùَأَوْجَبَ ذَلÙÙƒÙŽ نَقْصًا ÙÙيه٠Ùَوَجَبَ جَبْرÙÙ‡Ù Ø¨ÙØ§Ù„Ø¯Ù‘ÙŽÙ…ÙØŒ وَزَادَ الْØÙŽÙ†ÙŽÙÙيَّةÙ: Ø¥Ùنْ كَانَ بÙمَكَّةَ ÙÙŽØ¹ÙŽÙ„ÙŽÙŠÙ’Ù‡Ù Ø§Ù„Ø¥Ù’ÙØ¹ÙŽØ§Ø¯ÙŽØ©ÙØŒ ÙˆÙŽØ¥Ùنْ عَادَ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰ بÙلاَدÙÙ‡Ù Ùَعَلَيْه٠دَمٌ
Artinya: “Ulama’ berbeda pendapat terkait hukum Tawaf dengan naik tunggangan yang tidak disertai adanya udzur. Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa ia tidak wajib membayar dam (denda), berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah saw ketika melaksanakan Thawaf wada’ (perpisahan) itu dengan menaiki Unta.
"Dan Jabir pun menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah Thawaf dan Sa’i (antara bukit Shafa dan Marwah) dengan menaiki tunggangan. Karena Allah swt memerintahkan Thawaf secara mutlak (tanpa disertai penjelasan rinci terkait pelaksanaannya), maka dilakukan dengan cara apapun itu bisa mencukupi".
Tidak diperkenankan untuk membatasi sesuatu yang mutlak, kecuali dengan adanya dalil. Ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal. Adapun menurut Madzhab Hanafi, Maliki dan salah satu pendapat di Madzhab Hambali, dijelaskan bahwasanya berjalan saat Tawaf merupakan sebuah kewajiban.
Maka jika ada yang Tawaf dengan menaiki tunggangan, padahal ia tidak memiliki udzur apapun. Maka ia dikenakan sanksi Dam, hukum ini berdasarkan Hadis Rasulullah saw yang berbunyi;
“Thawaf di Ka’bah itu sama halnya dengan Shalat”. Karena Thawaf merupakan ibadah yang berkaitan dengan Baitullah, maka tidak boleh melaksanakannya dengan menunggangi apapun kecuali adanya udzur, sebagaimana saat shalat.
Hal ini juga didasarkan pada Firman Allah swt yang berbunyi “dan berthawaflah kalian di baitullah”, (menurut mereka) thawaf dengan naik tunggangan ini bukanlah Tawaf secara hakikat. Sehingga wajib membayar dam, karena ia telah melakukan kekurangan dalam beribadah.
Bahkan dalam pandangan Madzhab Hanafi dijelaskan bahwasanya ketika ia masih berada di Mekkah, wajib baginya untuk mengulangi tawafnya. Adapun ketika sudah pulang ke rumahnya, maka wajib membayar dam”.
Dengan demikian bisa diketahui bahwasanya boleh bagi lansia atau yang memiliki uzur untuk tawaf dengan menaiki kursi roda. Adapun bagi yang tidak ada udzur, maka ulama telah berbeda pendapat sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Keterangan hukum lansia tawaf menggunakan kursi roda ini disarikan dari kitab yang Al Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-kuwaitiyah, juz 24 halaman 123-124. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam bi Al-shawab.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published