Skip to main content

Category : Tag: Temayang


Kolaborasi, HMP PAI UNUGIRI Adakan Santunan dan Do'a Bersama

Bulan Rajab selalu disambut gembira dan suka cita oleh umat Islam. Salah satunya, HMP PAI UNUGIRI berkolaborasi dengan Sanggar Amreta Tisna Aksara Desa Buntalan, Kecamatan Temayang, menggelar santunan anak yatim piatu dan doa bersama, Minggu (21/1/2024).

Sanggar Amreta Trisna Aksara Jadi Inspirasi Pemuda di Desa Buntalan

Sanggar Amreta Trisna Aksara yang ada di Desa Buntalan, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro yang didirikan oleh seorang pemuda desa, dijadikan rujukan sumber inspirasi dalam hal dedikasi serta pengabdian kepada masa depan generasi penerus bangsa.

Air dari Sendang Sampang Dipercaya Membawa Berkah

Suasana yang sejuk saat memasuki kawasan yang disebut Sendang Sampang, letaknya berada di Dukuh Sampang, Desa Buntalan, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro. Pohon besar dengan akar yang menjulang, sangat jelas menunjukkan betapa tuanya usia kawasan tersebut.

Petani Jagung NK Wiro Sableng Bungah

Jito salah satu warga Desa Buntalan, Kecamatan Temayan, Kabupaten Bojonegoro menceritakan dalam waktu dua Minggu ini warga disibukkan dengan panen jagung, hampir mayoritas petani panen jagung khusus warga Dukuh Buntalan. Meskipun lahan yang ditanami jagung terpisah kalau perkiraan sawah yang ditanami kurang lebih sekitar setengah hektar.

Pensiun TNI AD ini Bergelut di Bidang Arkeologi

Supangat salah satu warga Desa Buntalan, Kecamatan Temayan, Kabupaten Bojonegoro ia seorang pensiunan TNI Angkatan Darat. Di masa-masa pensiunnya bergerak di bidang arkeologi, sehingga pada tahun 2010, yang lalu ia menemukan berbagi macam fosil di Kabupaten Bojonegoro khusus di kawasan selatan.

Asal Mula Desa Buntalan dan Situs Fosil Jadi Kekayaan yang Terpendam

Mayoritas desa di dalam Kabupaten Bojonegoro memiliki dukuh yang lebih dari dua dukuh. Salah satunya berada pada Desa Buntalan, yaitu Dukuh Sampang dan Dukuh Buntalan, menurut sumber dari salah satu tokoh yang bergabung pada pemerintahan Bojonegoro Mbah Supangat mengungkapkan bahwa dikarenakan Dukuh Buntalan lebih tua dari pada Dukuh Sampang sehingga dipergunakan sebagai nama desa. Dalam sejarah dukuh berarti rukun warga ( RW), akan tetapi masyarakat tetap menggunakan kata dukuh dalam suatu wilayah desa.