Daftar Kebiasaan Buruk yang Meningkatkan Risiko Kanker Payudara
Dibanding faktor genetik atau keturunan yang hanya 5 hingga 10 persen, risiko kanker payudara 90 hingga 95 persennya disebabkan faktor lingkungan dan gaya hidup.
Dibanding faktor genetik atau keturunan yang hanya 5 hingga 10 persen, risiko kanker payudara 90 hingga 95 persennya disebabkan faktor lingkungan dan gaya hidup.
Memasuki bulan kesepuluh pandemi Covid-19 di Indonesia, masker sudah menjadi barang yang wajib yang dikenakan saat beraktivitas di luar rumah.
Sejumlah wanita kerap merasakan payudaranya sakit mulai dari masa subur sampai menjelang haid. Rasa sakit ini terkadang hanya terasa ringan. Namun ada juga yang cukup parah sampai mengganggu kenyamanan.
Selain memerhatikan pola makan, olahraga juga penting dilakukan untuk membakar lemak. Dengan banyaknya pilihan aktivitas fisik, kita tentu ingin mencari olahraga yang membakar lemak paling banyak.
Pandemi corona memaksa kita harus membatasi aktivitas di luar rumah dan menghindari kontak langsung dengan orang lain. Terlebih lagi, wabah ini belum berakhir dan kita belum tau kapan wabah ini akan segera berakhir.
Masa pandemi Covid-19 menuntut anak-anak untuk bersekolah dari rumah melalui jejaring internet. Kondisi tersebut tentu bukanlah hal yang mudah bagi orangtua yang harus turut menjadi guru untuk anak itu sendiri.
Makanan pendamping air susu ibu ( MPASI) yang diberikan pada bayi sejak usia 6 bulan adalah bagian dari pemenuhan gizi optimal di masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan Anak.
100 hari pertama kehidupan bayi adalah saat-saat yang mendebarkan dan melelahkan bagi orangtua, apalagi jika bayi itu adalah anak pertama.
Saat mendapati benjolan di payudara, para wanita lumrah jika merasa rasa takut. Mereka khawatir benjolan yang muncul tersebut berkaitan dengan gejala kanker payudara.
Memiliki rasa yang pahit tidak membuat kopi kehilangan peminat. Ya, kopi sudah menjadi konsumsi harian sebagian besar orang di seluruh dunia.