Bojonegoro Masih Waspada Penyakit Difteri
Penyakit Difteri saat ini menjadi perbincangan nasional termasuk di Kabupaten Bojonegoro. Penyakit difteri tidak bisa dianggap sepele.
Penyakit Difteri saat ini menjadi perbincangan nasional termasuk di Kabupaten Bojonegoro. Penyakit difteri tidak bisa dianggap sepele.
Pemahaman tentang industri hulu minyak dan gas di Kabupaten Bojonegoro harus dimiliki oleh semua kalangan. Termasuk kalangan akademisi kampus, khususnya mahasiswa. Demikian disampaikan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, IKIP PGRI Bojonegoro, Heru Ismail dalam acara Sinergi Energi EMCL di auditorium kampus setempat, Kamis (14/11/2017).
Beredarnya informasi bahwa BPJS Kesehatan tak lagi menanggung semua biaya delapan penyakit katastropik seperti jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, sirosis hepatitis, thalassemia, leukimia, dan hemofilia, disikapi BPJS Bojonegoro.
Penyakit jantung memang menjadi salah satu penyebab utama kematian.
Penyebaran Human Immunodeficiency Virus Infection and Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV- AIDS) hampir merata, bahkan setiap tahunnya ditemukan kasus baru. Sehingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro gencar melakukan pencegahan penularan virus tersebut.
Terakit wacana untuk menerapkan cost sharing akibat defisit yang terlalu tinggi yang dialami oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Humas Rumah Sakit Daerah Umum (RSUD) Sosodor Djatikoesomo, Thomas Djaja mengungkapkan, tidak tahu persoalan tersebut. Namun menurutnya, sampai saat ini biaya untuk penyakit katastropik masih ditanggung BPJS Kesehatan.
Akhir Desember 2018, target Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Bojonegoro bisa mencover seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban. Hal itu meninggat di tahun 2019 sebanyak 100% masyarakat harus tercover JKN-KIS.
Rencana Badan Penyelenggara Jaminan sosial (BPJS) Kesehatan yang tidak menanggung 8 penyakit katastropik membuat resah banyak orang. Kedelapan penyakit tersebut diantaranya jantung, kanker, stroke, leukimia, ginjal, talesemia, hipatitis, hemofilia.
Usaha dan upaya bakal calon perseorangan, Sukir, untuk mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dipastikan gagal. Setelah persyaratan yang diumumkan sesuai peraturan KPU tidak dipenuhi ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Bojonegoro itu.
Setelah menyapa pengurus dan kader Partai Amanat Nasional (PAN) bagian timur dan tengah, yang juga bersamaan kegiatan Mas Agus Maimun 'Menyapa dan Mendengar'. Kegiatan tersebut dijadikan konsolidasi dan sosialisasi untuk memperkenalkan Basuki sebagai salah satu tokoh yang akan dicalonkan partai berlambang matahari itu, pada Pemilihan Bupati (Pilbup) Bojonegoro mendatang.