Sebagai daerah penyandang kawasan agropolitan bersama dengan dua kecamatan lainnnya,Yakni Kecamatan Kapas dan Kalitidu, Kecamatan Dander akan membuka wisata baru berbasis kebun buah di Desa Kunci dan Desa Sumberarum.
Berdasar pada data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bojonegoro, secara astronomis Kabupaten Bojonegoro terletak pada posisi 112°25´-112°09´ BT dan 6°59´-7°37´ LS, serta jumlah penduduk sebesar 1.450.889 jiwa. Luas dan banyaknya penduduk ini tidak dapat dipungkiri bahwa Bojonegoro bisa semakin Matoh. Hal ini juga sesuai dengan jargon masa pemerintahan Bupati Suyoto, M.Si yaitu ‘Bojonegoro Matoh’. Bupati Suyoto juga membuat lagu dengan judul ‘Bojonegoro Matoh’. Salah satu lirik yang bisa digarisbawahi adalah Bojonegoro semangat berbenah, Bojonegoro tak henti berkarya, Bojonegoro semua pasti suka, Bojonegoro matoh. Pada lirik ini sangat memotivasi masyarakat untuk selalu membuat inovasi-inovasi yang bisa menjadikan Bojonegoro lebih matoh di-era selanjutnya. Untuk itu pada tulisan kali ini saya menawarkan tiga pilar yang nantinya dapat dijadikan sebagai penopang Kabupaten Bojonegoro agar semakin matoh. Pilar tersebut yaitu:
Peringatan Hari Kartini di SD Muhammadiyah 2 Jalan Untung Surapati berlangsung sederhana. Meski begitu, lomba yang diikuti wali murid dan siswa ini terlihat meriah.
Setelah berjalan beberapa bulan dengan serangkaian kegiatan di keluarga, Program Gerakan Masyarakat Peduli HIV/AIDS (GeMas HIV/AIDS) hasil kemitraan Kampus Ungu, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada (STIKes ICsada) Bojonegoro dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) memasuki aksi bersama. Yakni melibatkan banyak pihak dan warga empat desa di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro hanya bisa gigit jari, meskipun pertumbuhan ekonomi meningkat, namun pesimis menentukan target proyeksi pendapatan pajak. Kemandirian keuangan Kabupaten Bojonegoro masih rendah, dibanding dengan tiga sumber pendapatan lainnya.
Menanamkan prilaku cinta lingkungan bersih dan nyaman di sekolah membuat suasana belajar menjadi sangat berkesan, sehingga merangsang setiap siswa dapat mengkreasikan kreatifitas masing-masing. Disamping itu, hal tersebut juga untuk mewujudkan sekolah Adiwiyata.
Hasil panen bawang merah petani di Desa Megale, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro hanya bisa dijual di sekitar pasar Kedungadem dan Sumberrejo. Pasalnya, hasil panen baru sedikit dan belum bisa memenuhi kebutuhan di kedua pasar tersebut.
Dipindahnya pedagang di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Kedungadem, Bojonegoro membuat pedagang banyak yang memilih untuk tidak berjualan atau malah memilih berjualan di emperan. Pasalnya, TPS yang berada di belakangan kantor BRI unit Kedungadem itu tidak dekat dengan jalan raya.
Setelah diresmikan untuk dibuka bagi khalayak umum pada 1 Januari 2015 tahun lalu, destinasi wisata Negeri Atas Angin, yang terletak di Desa Deling, Kecamatan Sekar hingga kini belum dilengkapi sarana untuk Mandi, Cuci, Kakus (MCK) dan musala.