Pawai budaya hari terakhir jenjang SMA dan Umum berjalan meriah, pasalnya diikuti sebanyak 15 peserta tingkat SMA dan 22 peserta tingkat umum. Pada pelaksanaan pawai budaya ini setiap peserta menampilkan aneka kreasi tema budaya lokal Bojonegoro di hadapan para juri dan Bupati.
Maria Celia Lahir pada tanggal 2 Desember 1923, terlahir dengan nama Maria Anna Sophie Cecilia Kalogeropoulos orang tuanya imingran yunani. Ia pernah belajar di National Conservatoire, Athena dan Paris pada tahun 1964, Sir David Webster direkrut Royal Opera Housedi London menggambarkannya sebagai “Seniman Teater Musik terhebat pada masanyaâ€. Maria Celia adalah “La Divina†Seorang penyanyi sopran oper paling terkenal. Namun diantara penyanyi sopran ia punya saingan berat pada abad ke-20. Ia juga pernah memerangi film, Film yang pernah dibintanginya antara lain “Callas Forever (2002), Medea (1969), dan Maria Calas potrait (1968). Lahir di New York City dan dibesarkan oleh seorang ibu yang keras, ia memperoleh pendidikan musik dan mulai membangun karirnya di italia. Hidupnya yang penuh tragedi sering membayangi karirnya. Pada tahun 2006 ia mulai menulis opera news mengenai callas.
Pawai budaya tingkat SD dan SMP hari ini berlangsung meriah. Ribuan peserta menampilkan beragam tema budaya lokal. Kategori SD menampilkan potensi desa sebagai identitas kekayaan budaya lokal. Sedangkan SMP menyuguhkan musik tradisional pentatonis non elektrik.
Kali ini di Pawai Budaya Hari Jadi Bojonegoro ke 341 Tingkat SD dan SMP sederajat, MI Islamiyah Mojokampung Kabupaten Bojonegoro menampilkan tradisi Gejug Gugur Gunung Lesung Jumengglung. Tradisi itu, digali dari Desa Pungpungan, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro.
Pawai budaya SD, MI, SMP dan MTs dalam rangkaian HJB ke 341, Sabtu (13/10/2018) resmi diberangkatkan oleh Bupati Bojonegoro. Sebanyak 32 peserta ikut meramaikan pada pawai budaya yang digelar di hari ke dua ini.
Dalam rangka menyambut Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 341, Sabtu (13/10/2018) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, melaksanakan Pawai Budaya jenjang SD/MI/SMP/MTs yang diikuti sebanyak 32 peserta.
Fredy Siswanto, atau yang lebih dikenal sebagai fredy S adalah seorang penulis buku roman pinggiran (yang dijual di kaki lima ). Ia seorang novelis “kondang†pada masanya ratuan novel Fredy berjaya pada dekade 80 hingga 90-an di Indonesia. Namun, disayangkan, pentasnya di panggung sastra Indonesia dianggap tidak pernah ada. Kebanyakan para kritikus menganggap karya karyanya jauh dari apa yang kerap disebut karya sastra dari segi kualitas. Tapi toh Fredy tidak memperdulikan hal itu, karyanya msih menjadi buruan sebagian kalangan sampai saat ini. Fredy S memang novelis yang produktif karena telah lebih dari 300 judul buku ditulisnya. Fredy kini telah tiada beliau tutup usia pada 24 Januari 2015. Beberapa karya dari Fredy S. Yaitu Rintihan Angsa Putih, Jeritan Dilanda noda, Bunga- bunga Pohon Cinta , Berandal-Beramdal Cinta, Kidung Cinta Remaja,Dll.
Selain Peserta pawai budaya yang dipastikan turut meramaikan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 341 tahun, beberapa tamu undangan juga bakal turut berpartisipasi unjuk kebolehan dalam ajang rutin tahunan itu. Hingga kini dari 6 Kabupaten yang diundang baru 3 kabupaten yang sudah memastikan ikut serta.
Pelaksanaan pawai budaya tahun ini memang berbeda dari tahun lalu, karena setiap peserta wajib mengangkat tema budaya lokal Bojonegoro, sehingga saat arak-arakan nanti masyarakat bakal disuguhi pertunjukan yang menarik.
Untuk memeriahkan Peringatan Hari Santri tahun 2018 ini di Bojonegoro, selain menggelar upacara dan juga pertunjukan drama kolosal, nantinya juga bakal ada beberapa lomba yang digelar, yakni seperti paduan suara menyanyikan lagu ahlal wathon dan lomba baca kitab kuning.