Skip to main content

Category : Tag: Rit


Berita Foto

Ribuan Pengunjung Padati Fesban

Festival Banjari (Fesban) IKAMI ATTANWIR 2024 benar-benar bisa menyedot animo masyarakat, Senin (24/6/2024). Tampak, ribuan pengunjung memadati lokasi bazar alumni Attanwir tempat Fesban yang juga dalam rangka Haul ke 32 Almaghfurlah Kh. Moh. Sholeh dan Masyayikh Ponpes Attanwir Talun.

Warga Sukorejo Kehilangan STNK NoPol S-5872-DG

Berita kehilangan dialami oleh saudara Raditya Rizky Ashari, warga Desa Sidodadi, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban. Lelaki yang tinggal di Jalan Raya Bangilan, Desa Sidodadi itu kehilangan STNK Motor dengan Nopol S-5872-DG Merk HONDA Vario 125 warna Putih Hitam tahun 2012 atas nama Mujihastuti.

Utusan Raja Demak Babat Alas Desa Duwel

Pasangan suami istri Nyai Qoriyah dan Windu Kuntoro merupakan utusan Raja Demak dimasa Hindu Budha memberikan perintah kepada sepasang pendekar gagah berani untuk membuka pemukiman dikawasan selatan Bojonegoro, saat ini tepat di Desa Duwel, Kecamatan Kedungadem, Jawa Timur.

Cerita Desa Sitiaji, Jadi Gelap saat Ada Belanda

Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur terdiri dari 28 kecamatan, 11 kelurahan, dan 419 desa. Dari ratusan desa itu memiliki nama yang unik, dan masing-masing punya cerita menarik yang sudah turun temurun diceritakan dari generasi ke generasi.

Cerita Desa Trate Diambil dari Nama Bunga

Konon zaman dahulu pedukuhan ini terdapat hutan belantara semasa kerajaan, hingga kemudian datang penjajahan Kolonial Belanda masih ditemukan hutan tersebut, akan tetapi banyak sekali bunga teratai di setiap sudut pedukuhan.

Mbah Abdullah Sambiroto yang Masih Jalur Sunan Bejagung

Salah satu tokoh penyebar Islam di sekitaran jantung Kota Bojonegoro terdapat Mbah Abdullah atau Mbah Suyrgi. Makamnya ada di belakang Masjid Abdullah, Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.

Cerita Desa Bulu, Dulunya Adalah Hutan Belantara

Handoyo Sekretaris Desa Bulu, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro menceritakan awal mula nama Desa Bulu menurut cerita nenek moyang atau para sesepuh disini itu karena banyaknya pohon bulu.