Skip to main content

Category : Tag: Ras


Kemenag RI

Hore..! Rp1,79 Triliun Segera Cair untuk BOP RA dan BOS Madrasah

Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) untuk Raudlatul Athfal (RA) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk madrasah triwulan kedua tahun 2025 senilai total Rp1,79 triliun segera cair dan siap disalurkan ke rekening masing-masing lembaga.

Tashih Qiro'ah Muwahhadah: Melatih Lisan, Menundukkan Hati, Menghidupkan Kalamullah

Pesantren Madrasah Darul Fikri–MTsN 3 Bojonegoro kembali menjadi tuan rumah sebuah agenda keilmuan dan spiritual yang penuh hikmah. Acara bertajuk "Tashih Qiro’ah Muwahhadah: Melatih Lisan, Menundukkan Hati, Menghidupkan Kalamullah" ini digelar pada hari Jum’at (27/6/2025) dan terbuka untuk umum.

Berita Foto

Peserta Jambore MTs Islamiyah Attanwir Berangkat

610 siswa MTs Islamiyah Attanwir, Talun, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, diberangkatkan mengikuti jambore dan kemah bakti, Rabu (25/6/2025) sore.

Medayoh ke Perpustakaan

"Medayoh ke Perpustakaan", itulah tema diskusi kecil penulis dengan Pimred blokBojonegoro.com (bB), di ruang baca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dis Perpus Sip), Rabu (14/05/25). Tujuannya, ya ingin membangun gemar membaca saja.

Digital Branding Sekolah 2025

Mas Bupati Wahono: Program DBS Istimewa, Kami Dukung

Kick Off Program Digital Branding Sekolah (DBS) tahun 2025 yang diinisiasi Blok Media Group (BMG) melalui anak usahanya blokBojonegoro.com dan LPKS STIKOMA, mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Bojonegoro, H. Setyo Wahono.

RA. Kartini, Ki Hajar Dewantara dan Literasi

Raden Ajeng Kartini lahir di Mayong Jepara, pada 21 April 1879. Ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah seorang bupati di Jepara. Kartini dikenal sebagai pribadi yang supel, menghormati orangtua, dan berjiwa sosial. Sebagai keturunan bangsawan tidak membuatnya merasa sombong dan membeda-bedakan status sosial. Kartini berteman baik dengan siapapun. Kartini juga sangat menghormati orang tua. Ada gejolak di dalam hati saat ia harus menjalani pingitan. Namun, berbekal rasa hormat dan patuhnya terhadap keluarga dan tradisi, beliau tetap mengikuti aturan tersebut. Demikian juga ketika sang ibu, Ngasirah, menolak mentah-mentah pemikiran Kartini untuk mengubah nasib perempuan. Hubungan antar ibu dan anak itu pun sempat renggang. Meskipun timbul rasa kecewa, perlahan RA Kartini kembali memperbaiki hubungan dengan sang ibu, seperti dituturkan Salsabila Nanda.