Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Saat lampu panggung senyap dalam gelaran Bojonegoro Arts Circle di Gedung BCH Bojonegoro, seorang aktor muncul diantara penonton. Ia berbicara, bergerak, dan menjelma menjadi beragam wajah manusia dengan sebuah spot lampu sederhana yang dibawa dalam monolog Dalam Topeng-Topeng.
Namun pertunjukan itu tidak lahir dari ruang latihan yang mewah atau proses yang serba ideal.
Di balik pementasan tersebut, tersimpan cerita tentang para pegiat teater yang menjalani apa yang mereka sebut sebagai gerilya budaya—upaya menjaga nyala kesenian di tengah berbagai keterbatasan hidup sehari-hari.

Monolog Dalam Topeng-Topeng ialah karya dramawan dan sutradara teater Indonesia, Rachman Sabur, tokoh penting di balik Teater Payung Hitam yang dikenal melalui eksplorasi teater simbolik, visual, dan kritik sosial. Naskah ini telah banyak dipentaskan kelompok teater di berbagai daerah karena menawarkan lapisan tafsir tentang identitas manusia, kepalsuan, hasrat, hingga pertarungan antara wajah yang ditampilkan dan kenyataan yang disembunyikan.
Dalam pementasan di Bojonegoro, naskah tersebut disutradarai Prawoto, yang akrab disapa Lek Owot, dengan Dadan sebagai aktor utama dan Hakim sebagai penata artistik.
Mewakili Teater Ruang Hening, Lek Owot menyebut pementasan itu bukan sekadar agenda seni, melainkan bagian dari gerakan panjang yang selama ini mereka rawat. "Ini bagian dari gerilya budaya yang sudah lama kami lakukan," ungkapnya tenang.

Kalimat itu tak hanya sekadar slogan. Sebab proses menuju pementasan berlangsung di tengah kehidupan yang terus berjalan. Ada aktor yang harus merawat orang tua yang sedang sakit. Tetap mengurus pekerjaan rumah, harus membagi waktu dengan pekerjaan sehari-hari. Bahkan proses menghafal naskah dan eksplorasi karakter kerap dilakukan di sela aktivitas sederhana seperti mencabuti rumput.
"Prosesnya sekitar satu bulan. Di tengah berbagai keadaan, mulai dua orang tua aktor yang sedang sakit, mengurus rumah, sampai njabuti rumput sambil menghafal dan eksplor naskah," ungkap Lek Owot.
Kondisi itulah yang membuat istilah gerilya budaya terasa nyata. Seni tidak tumbuh dari kemapanan, melainkan dari kegigihan orang-orang yang tetap memilih berkarya meski ruang, waktu, dan tenaga sering kali terbatas.
Pilihan mereka membawakan karya Rachman Sabur juga bukan tanpa alasan.
Dalam sejumlah pembacaan teater, Topeng-Topeng berbicara tentang manusia yang terus berganti wajah demi menghadapi kehidupan. Tokoh-tokohnya bergerak di antara identitas, ambisi, kebaikan, keburukan, serta kegelisahan eksistensial yang membuat batas antara diri asli dan topeng sosial menjadi kabur.
Tema itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Manusia kerap tampil berbeda di hadapan orang lain. Menyimpan luka, kegelisahan, dan ketakutan di balik wajah yang terlihat baik-baik saja. Dalam konteks itulah, monolog menjadi medium yang kuat karena seluruh beban cerita berada pada satu tubuh aktor.

Tak ada lawan main yang menopang dialog. Tak ada tempat bersembunyi ketika emosi goyah. Yang ada hanya selembar kain putih yang dieksplor menjadi silurt, dan semua bergantung pada kemampuan aktor menghadirkan dunia batin tokoh di hadapan penonton.
Dadan memikul tanggung jawab itu seorang diri di atas panggung.
Sementara Hakim membangun ruang visual yang sederhana tetapi mendukung suasana pementasan. Kesederhanaan artistik justru memberi ruang agar penonton lebih fokus pada tubuh, suara, dan pergulatan emosi yang ditampilkan aktor.
Bagi Teater Ruang Hening, keberhasilan pertunjukan bukan semata soal jumlah penonton atau kemegahan panggung. Yang lebih penting adalah menjaga agar seni pertunjukan tetap hidup dan memiliki ruang di Bojonegoro.
Di tengah dominasi hiburan digital dan minimnya ruang ekspresi, para pegiat teater tetap bertahan dengan cara mereka sendiri. Mereka berlatih setelah bekerja, mencuri waktu di sela urusan keluarga, hingga membawa kegelisahan hidup ke atas panggung menjadi karya. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published