Pupuk Bersubsidi Diduga Langka, ini yang Dilakukan Pemkab Bojonegoro
Santer terdengar kabar, beberapa petani di Bojonegoro mengalami kendala untuk mendapatkan pupuk bersubsidi hingga terkesan mengalami kelangkaan.
Santer terdengar kabar, beberapa petani di Bojonegoro mengalami kendala untuk mendapatkan pupuk bersubsidi hingga terkesan mengalami kelangkaan.
Masker menjadi salah satu kebutuhan yang paling dicari masyarakat, usai pemerintah mengumumkan masuknya virus corona ke Indonesia. Tak heran jika harga masker semakin meningkat dan mulai langka di pasaran.
Berbeda dengan sumur jubin pada umumnya yang akan berkurang debit airnya dan bahkan mengering saat kemarau panjang, air sumur tua yang ada di Desa Nglampin, Kecamatan Ngambon, Kabupaten Bojonegoro ini justru berbeda.
Beberapa waktu lalu, solar sempat kosong di beberapa SPBU yang ada di Bojonegoro, lantaran armada pengangkut dalam perbaikan. Kini pasokan solar di SPBU kembali normal, dan pengiriman ke SPBU juga ditambah.
Sebagian petani di Kecamatan Sekar berebut mendapatkan pupuk. Sebab, pupuk di daerah setempat mulai langka.
Tidak hanya garam dapur yang mengalami kenaikan harga sampai 100 persen, harga garam krosok juga mengalami kenaikan. Harga garam krosok atau yang lebih dikenal dengan sebuta garam kasar dari yang sebelumnya dijual dengan harga Rp4.000 per kilogram naik menjadi Rp6.000 bahkan ada yang sampai Rp7.000.
Pasokan garam di sejumlah pasar tradisional masih langka. Selain itu harga meningkat drastis sampai 100% hal ini sangat dikeluhkan sejumlah pedagang dan konsumen, bahkan banyak yang heran dengan kelangkaan ini.
Kebutuhan pupuk yang meningkat memasuki masa tanam membuat oknum di Kecamatan Sekar, Kebupaten Bojonegoro memanfaatkan momen dengan menjual pupuk bersubsidi dari Blora yang jelas melanggar hukum.
Beberapa minggu terakhir, harga pupuk mengalami kenaikan, hal tersebut juga berdampak pada terjadinya kelangkaan pupuk di pasaran. Khususnya bagi sebagian para petani di Kecamatan Sekar, yang saat ini mulai mengeluhkan susanya untuk mendapatkan pupuk.
Setelah menjabat tiga tahun lima bulan dan 13 hari, Kepala Bapas Kelas II Bojonegoro, Dyah Wandansari resmi alih tugas ke LP wanita Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tugasnya digantikan Supriyana dari Rutan Medaeng.