#Bahasa untuk Sesama
Syahdu, Rembuk Cerpen Disambut Guyuran Hujan
Suasana panas dan gerah di Senin (15/10/2018) siang, berubah menjadi sedikit sejuk sekitar pukul 16.00 WIB. Sebab, hujan deras mengguyur wilayah kota Bojonegoro.
Suasana panas dan gerah di Senin (15/10/2018) siang, berubah menjadi sedikit sejuk sekitar pukul 16.00 WIB. Sebab, hujan deras mengguyur wilayah kota Bojonegoro.
Pelaksanaan pawai budaya tahun 2018 ini dalam memeriahkan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 341 terasa istemewa dan penuh edukasi bagi masyarakat Bojonegoro. Pasalnya setiap peserta pawai mengusung tema asli Bojonegoro yang sudah hampir punah dan nyaris tidak dilaksanakan.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, kehidupan manusia dipengaruhi oleh empat elemen, yaitu : bumi, angin, api, dan air. Maka untuk menghormati bumi, pada saat seorang anak manusia untuk pertama kalinya diadakanlah upacara Tedhak Siten ini. Dengan pelaksanaan ritual ini, diharapkan agar si anak selalu sehat, selamat, dan sejahtera dalam menapaki jalan kehidupannya.
Banyaknya jalan yang ditutup menuju lokasi Karnaval dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro (HJB) yang ke-341 dengan titik start di Depan Pendopo Malowopati Kabupaten Bojonegoro, menjadikan tidak sedikit masyarakat yang kebingungan untuk mencari tempat parkir.
Antusiasme masyarakat Bojonegoro melihat pawai budaya hari terakhir membuat rute yang dilalui oleh peserta semakin menyempit, sehingga performa peserta pawai terganggu saat melintas dan saat hendak mau menunjukkan atraksinya.
Karnaval dalam rangka memeriahkan hari jadi Kabupaten Bojonegoro yang ke 341 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Minggu (14/10/2018), dengan menampilkan berbagai macam kreasi menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat.
Hari ke tiga Pawai Budaya Hari Jadi Bojonegoro (HJB) 341 yang mana peserta dari tingkat SMA Sederajat dan Umum serta ada peserta tamu dari Kabupaten lain, Minggu, (14/10/2018). Hal tersebut nampaknya menjadikan masyarakat semakin antusias dalam menonton Pawai Budaya HJB 341 hari ini, dibandingkan kemarin.
Pawai budaya hari terakhir jenjang SMA dan Umum berjalan meriah, pasalnya diikuti sebanyak 15 peserta tingkat SMA dan 22 peserta tingkat umum. Pada pelaksanaan pawai budaya ini setiap peserta menampilkan aneka kreasi tema budaya lokal Bojonegoro di hadapan para juri dan Bupati.
Maria Celia Lahir pada tanggal 2 Desember 1923, terlahir dengan nama Maria Anna Sophie Cecilia Kalogeropoulos orang tuanya imingran yunani. Ia pernah belajar di National Conservatoire, Athena dan Paris pada tahun 1964, Sir David Webster direkrut Royal Opera Housedi London menggambarkannya sebagai “Seniman Teater Musik terhebat pada masanyaâ€. Maria Celia adalah “La Divina†Seorang penyanyi sopran oper paling terkenal. Namun diantara penyanyi sopran ia punya saingan berat pada abad ke-20. Ia juga pernah memerangi film, Film yang pernah dibintanginya antara lain “Callas Forever (2002), Medea (1969), dan Maria Calas potrait (1968). Lahir di New York City dan dibesarkan oleh seorang ibu yang keras, ia memperoleh pendidikan musik dan mulai membangun karirnya di italia. Hidupnya yang penuh tragedi sering membayangi karirnya. Pada tahun 2006 ia mulai menulis opera news mengenai callas.
Pawai budaya tingkat SD dan SMP hari ini berlangsung meriah. Ribuan peserta menampilkan beragam tema budaya lokal. Kategori SD menampilkan potensi desa sebagai identitas kekayaan budaya lokal. Sedangkan SMP menyuguhkan musik tradisional pentatonis non elektrik.