Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia belum menjamin keberlanjutan bisnis media. Di tengah perubahan perilaku audiens dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), perusahaan pers dituntut tidak sekadar mengejar trafik, tetapi juga mampu mengubah perhatian dan kepercayaan publik menjadi nilai ekonomi.
Persoalan tersebut disoroti Ketua Komisi Digital dan Keberlanjutan Dewan Pers, Dahlan Dahi, dalam sesi AI and Publishers: The New Challenges, More Productive, But More Fragile pada Local Media Summit 2026 di Jakarta, 22-23 Oktober 2026.
"Kemampuan kita meng-capture value menurun, padahal market besar. Ini menjadi tantangan kita," ungkap Dahlan saat menjelaskan perubahan ekosistem media dan model bisnis penerbitan.
Menurut Dahlan, Indonesia memiliki potensi pasar digital yang besar. Dalam presentasinya, ia memaparkan data sekitar 286 juta penduduk, 230 juta pengguna internet, 180 juta identitas pengguna media sosial, serta nilai pasar iklan internet mencapai US$10,7 miliar.
Namun, besarnya pasar tersebut tidak serta-merta membuat perusahaan media mampu mempertahankan pendapatan. Penurunan trafik, perpindahan audiens ke berbagai platform, serta perubahan pola konsumsi informasi membuat penerbit harus mencari cara baru untuk menjaga keberlangsungan bisnisnya.
AI Mengubah Pola Konsumsi Informasi
Perkembangan AI turut mengubah cara masyarakat mencari dan memperoleh informasi. Jika sebelumnya pengguna mengetikkan kata kunci di Google, lalu mengeklik tautan untuk membaca artikel di situs berita, kini mereka bisa langsung meminta jawaban dari layanan berbasis AI.
"Dulu user mencari di Google, kemudian Google dikasih link, baru ke artikel. Tapi sekarang user ke AI, kemudian AI menjawab," tutur Dahlan.
Perubahan ini menjadi tantangan bagi media yang selama ini mengandalkan kunjungan ke situs sebagai salah satu sumber pendapatan. Ketika pengguna memperoleh jawaban tanpa membuka artikel asli, peluang media mendapatkan trafik dan pendapatan iklan ikut menyusut.
Dampaknya tidak hanya dirasakan penerbit. Perubahan tersebut juga memengaruhi ekosistem pencarian informasi digital, termasuk platform seperti Google yang selama ini menjadi salah satu pintu masuk utama bagi pembaca untuk menemukan konten media.
Kondisi ini menuntut perusahaan pers mengevaluasi strategi distribusi konten sekaligus memperkuat hubungan langsung dengan audiens. Ketergantungan pada platform pihak ketiga membuat media rentan terhadap perubahan algoritma dan cara kerja teknologi.
Tekanan Bisnis Mengancam Keberlanjutan Jurnalisme
Bagi Dahlan, persoalan ekonomi media tidak bisa dipandang semata-mata sebagai urusan perusahaan. Kemampuan media membiayai kerja jurnalistik berkaitan langsung dengan keberlangsungan fungsi pers dalam kehidupan demokrasi.
"Ketika jurnalisme dalam masalah, yang bermasalah adalah masyarakat. Ini ancaman bagi demokrasi, serta ancaman bagi negara dan bangsa," tegasnya.
Dalam presentasinya, Dahlan turut menyoroti dampak tekanan industri terhadap pekerja media. Ia menampilkan data mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK), termasuk lebih dari 1.200 pekerja perusahaan pers yang kehilangan pekerjaan pada periode 2023-2024.
Ia juga menyebut sejumlah media yang menghentikan penerbitan atau mengakhiri operasional produk tertentu, di antaranya Gatra, Koran Sindo, serta Republika untuk edisi cetak, bersama sejumlah media cetak lainnya.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa perubahan lanskap digital bukan sekadar persoalan adopsi teknologi. Perusahaan pers juga harus menata ulang model bisnis agar tetap mampu membiayai peliputan, produksi berita, dan kerja jurnalistik yang independen.
Dahlan menegaskan, jurnalisme membutuhkan dukungan ekonomi yang berkelanjutan agar dapat melayani kepentingan publik dan menjaga kekuasaan tetap akuntabel. Ketika kemampuan media membiayai kerja jurnalistik melemah, salah satu penopang demokrasi turut menghadapi risiko.
Inovasi dan Diversifikasi Pendapatan
Untuk menghadapi perubahan tersebut, Dahlan menekankan pentingnya inovasi yang berangkat dari kebutuhan audiens dan relevansi produk. Setidaknya ada empat aspek yang perlu menjadi perhatian penerbit, yakni inovasi, produk, audiens, dan periklanan.
Dari sisi operasional, AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas kerja jurnalistik. Teknologi ini bisa membantu proses transkripsi wawancara, peringkasan dokumen, pemetaan topik, hingga mendukung produksi konten secara lebih efisien.
Pemanfaatan AI juga membuka peluang pengembangan produk baru, mulai dari presentasi berbasis AI dan layanan wawasan pembaca hingga produksi gambar, audio, dan video. Media juga dapat menjajaki sumber pendapatan alternatif, seperti lisensi konten, langganan, dan layanan berbasis AI.
Meski demikian, penggunaan teknologi tidak cukup jika media gagal menawarkan produk yang relevan. Penerbit perlu memahami kebutuhan pembaca, membangun kedekatan dengan komunitas, serta menghadirkan informasi dan layanan yang memiliki nilai berbeda dibandingkan jawaban instan dari platform digital.
Pada saat yang sama, media perlu mengevaluasi ketergantungan terhadap iklan digital. Ketika kunjungan situs menurun, model pendapatan yang bertumpu pada jumlah tayangan dan klik semakin perlu ditinjau. Diversifikasi melalui langganan, lisensi, maupun layanan lain dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha.
Dahlan memandang perubahan ini sebagai new normal yang harus dihadapi perusahaan media. Penerbit tidak bisa hanya menunggu trafik kembali seperti sebelumnya, tetapi perlu menyesuaikan produk dan strategi bisnis dengan kondisi baru.
Membangun Nilai dari Kepercayaan Audiens
Ke depan, tantangan media bukan sekadar mendatangkan sebanyak mungkin pengunjung, melainkan membangun hubungan yang kuat dengan audiens dan menciptakan nilai ekonomi dari kepercayaan yang telah diperoleh.
Perusahaan pers perlu mengembangkan produk jurnalistik yang relevan, memanfaatkan teknologi secara tepat, dan memperluas sumber pendapatan. Penggunaan AI pun harus diarahkan untuk memperkuat kualitas serta efisiensi kerja, tanpa mengabaikan prinsip dasar jurnalisme.
Pesan Dahlan dalam Local Media Summit 2026 menjadi pengingat bahwa besarnya pasar digital tidak otomatis menjamin masa depan industri pers. Kemampuan menangkap nilai ekonomi, menjaga relevansi produk, dan membangun hubungan langsung dengan audiens menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan keberlanjutan jurnalisme.
Sebab, di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, keberadaan media tidak cukup hanya diukur dari banyaknya orang yang membaca. Media juga harus mampu memastikan bahwa kerja jurnalistik memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk terus menjalankan fungsi publiknya. [feb/mad]