Di Balik Katrol Purba
Katrol-katrol purba yang masih tegak gagak berdiri di Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro

Fotografer: Wahyu Budiyanto

blokBojonegoro.com - Di perbukitan Wonocolo, garis-garis peta tak pernah benar-benar mampu membatasi riwayat hidup warga lokal. Secara administratif, tanah Wonocolo tunduk pada hukum Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. 

Namun, seolah memelihara takdir yang membelah diri, mahkota hutan di atas kepalanya berada dalam wilayah pengelolaan KPH Perhutani Cepu, Jawa Tengah. Di persimpangan dua provinsi dan dua otoritas ratusan penambang tradisional menancapkan harapan di tiang-tiang kayu jati, menggantungkan napas pada aliran emas hitam yang ditarik dengan teknologi sederhana dari kedalaman perut bumi.

Pagi menyingsing bukan disapa cericit burung, melainkan deru mesin rakitan yang memutus sunyi perbukitan. Dari udara, tiang-tiang katrol kayu berdiri mengepung lembah bagai monumen bersahaja yang terus bertahan melawan zaman. Di tapak-tapak sumur, peluh menetes beradu dengan aroma minyak mentah yang menyengat. Jemari yang legam, telapak tangan retak berlumur jelaga, hingga otot lengan yang menegang saat menarik seling baja adalah potret telanjang tentang bagaimana masyarakat lokal mengolah ruang hidupnya. 

Setiap pandangan mata penambang yang mendongak menatap tiang kayu menyimpan kisah tentang kelelahan yang mengkristal menjadi jati diri.

Namun, ruang hidup ini kini berada di persimpangan jalan ketika pemerintah daerah terdorong untuk menyulap kawasan ini menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark dan destinasi geowisata. Ketika wacana konservasi dan pariwisata berbenturan dengan wilayah kelola kehutanan serta tambang rakyat, sebuah pertanyaan besar mengemuka: di manakah letak kedaulatan rakyat jika ruang penghidupan mereka berangsur terdesak dan tereduksi menjadi sekadar latar foto bagi para pelancong?

Bagi warga Wonocolo, keterikatan dengan tanah tidak pernah tunggal. Saat kemarau mencekik dan sumur-sumur tak lagi deras melimpahkan minyak, sebagian celah lahan kering di lereng bukit disulap menjadi hijau oleh petakan jagung musiman. 

Warga bertani di antara tiang-kayu tambang, menegaskan daya tahan ekonomi yang multidimensi. Bahkan ketika malam jatuh mengepung perbukitan, gubuk-gubuk kayu tetap hangat oleh nyala api. Di sana, para penambang berkumpul melintasi batas shift kerja, berbagi seruput kopi, atau hanya sekedar mengambil nafas untuk melepas lelah.

Wonocolo adalah potret tentang manusia, tanah, dan sumber daya yang beradu dengan perubahan zaman. Jika kelak kawasan ini benar-benar ditahbiskan sebagai warisan geologi dunia, keagungan itu tidak boleh berdiri di atas pengasingan masyarakatnya, warga lokal harus dilibatkan sebagai subjek utama, bukan sekadar penonton. 

Sebab, warisan bumi yang sejati di Wonocolo bukan hanya kekayaan yang terpendam jauh di bawah batuan purba, melainkan martabat dan keteguhan para penambang tradisional yang terus membasahi tanah itu dengan kucuran keringat dan kerja keras.