Bakat Teknologi Sejak Dini, Bocah Bojonegoro Ini Otodidak Kuasai Elektronik
Bocah jenius, Daffa Adian Pratama (kanan) dan Ayahandanya saat dijumpai sejumlah awak media di kediamannya (Foto: Rizki Nur Diansyah)

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Tak seperti bocah pada umumnya, bocah asal Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini, memiliki ketertarikan belajar teknologi hingga mengotak-atik barang elektronik.

Ia adalah Daffa Adian Pratama, bocah berusia 9 tahun ini, merupakan putra sulung dari pasangan pasangan Andik Sujianto dan Lusy Ardiana. Di usianya yang masih belia, Daffa menunjukkan kemampuan yang tak biasa bagi anak seusianya.

Bocah yang masih duduk di kelas 3 sekolah dasar itu sudah mampu memperbaiki berbagai perkakas elektronik rumah tangga, mulai dari kipas angin hingga komputer. Ia bahkan memahami komponen mekanikal kendaraan dan berbagai alat elektronik.

Ayahanda Daffa, Andik Sujianto, mengungkapkan bahwa sejak kecil putranya sudah menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, terutama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan mesin dan teknologi.

"Kalau soal memperbaiki kipas angin sudah hafal, bahkan dia (Daffa) bisa menganalisis kerusakan komponennya, sekaligus menjelaskan cara memperbaikinya,” ungkap Andik, pada Jumat (10/4/2026).

Kemampuan tersebut dipelajari Daffa secara otodidak. Bocah itu memanfaatkan berbagai tutorial dari platform YouTube, kemudian ia melakukan eksperimen sendiri untuk memahami cara kerja sebuah alat.

Rasa ingin tahunya yang besar ini, membuat Daffa terus mengeksplorasi hal baru. Ia bahkan pernah membuat dimmer, alat untuk mengatur tegangan listrik guna menaikkan atau menurunkan kecepatan dinamo. Tidak hanya itu, Daffa juga pernah bereksperimen merakit sepeda listriknya sendiri.

"Komponen alatnya dia beli online. Ya, saya fasilitasi, dia beli baterai dan alat-alatnya, pernah juga buat alat sapu otomatis dari cikrak dan dinamo,” jelas Andik.

Keunikan lain dari Daffa adalah kemampuannya memahami cara kerja suatu alat hanya dengan melihat atau mencoba sebentar. Ia tidak hanya menggunakan alat tersebut, tetapi juga mampu menganalisis sistem yang ada di dalamnya.

Salah satu momen yang membuat ayahnya terkejut adalah ketika Daffa mampu menggulung dinamo dengan baik meskipun tidak pernah diajari sebelumnya.

"Tidak ada yang mengajari, saya sendiri nggak paham. Kok bisa gulung dinamo dan berfungsi baik. Dia (Daffa) bilang, ini kalau jumlah lilitan gulungannya tidak pas bakal gak stabil,” tutur Andik menirukan putranya.

Andik juga mengenang pengalaman unik saat Daffa masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Saat itu, Daffa sempat menolak berangkat sekolah karena guru tidak dapat menjawab pertanyaannya mengenai fungsi busi pada kendaraan.

"Dia itu sejak usia 3 tahunan, memang sudah saya perbolehkan main HP buat nonton youtube. Dengan didampingi dan waktu tertentu. Yang di tonton itu bukan kartun. Dia suka lihat cara buat robot, mesin-mesin kayak gitu," ulasnya.

"Diusia itu, dia belum bisa baca tulis. Tapi, sudah bisa pakai voice di youtube, kalau apa yang ingin dia cari tapi ternyata tidak sesuai. Protes dia," sambungnya.

Meski memiliki kecerdasan di bidang teknis, perjalanan akademik Daffa di sekolah tidak selalu berjalan mulus. Nilai pelajarannya tergolong biasa saja karena ia kurang tertarik dengan metode pembelajaran formal dan lebih menyukai belajar melalui praktik langsung.

Melihat potensi besar tersebut, kedua orang tuanya kini berupaya mencari pola pendidikan yang lebih sesuai agar kemampuan Daffa dapat berkembang secara maksimal.

Selain itu, Andik mengaku bahwa putranya memiliki cita-cita mulia di masa depan, yakni menjadi seorang insinyur yang mampu menciptakan berbagai alat bermanfaat bagi banyak orang.

“Kalau ditanya cita-cita Daffa apa? Pengen jadi insinyur,” pungkasnya. [riz/mad]