Istiqamah Sejak 2011, Dadar Mambu Ndok Edisi ke-6 Mata Basah Siap Berbagi di Malam 11 Ramadhan

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Tradisi berbagi takjil yang telah dirawat sejak 2011 kembali menggeliat di dapur sederhana namun penuh keberkahan milik Majelis Taklim Babus Sa’adah (Mata Basah). Di bawah asuhan KH Syaifurrohmah Dimyati atau Gus Syaif, majelis yang bernaung di Pondok Pesantren Abu Dzarin itu kembali menyiapkan ribuan paket nasi untuk dibagikan pada malam ganjil Ramadhan.

Sabtu, 28 Februari 2026 yang bertepatan dengan malam ke-11 Ramadhan 1447 H, menjadi momentum edisi ke-6 “Dadar Mambu Ndok Berbagi Bukonan”. Sejak pagi, Dapur Mata Basah sudah dipenuhi aktivitas memasak dan pembungkusan. Para santri dan relawan tampak bergotong royong, memastikan setiap paket tersaji rapi dan layak dinikmati saat berbuka.

Ribuan paket nasi takjil kembali disiapkan. Dari jumlah tersebut, 1.000 paket diperuntukkan bagi para santri pondok, sementara 500 paket lainnya dibagikan kepada yatim, janda, dan dhuafa di Desa Sumbertlaseh, Ngumpakdalem, serta wilayah sekitar Bojonegoro. Distribusi dilakukan menjelang waktu berbuka dengan melibatkan tim dapur dan relawan.

Menu yang dihadirkan memang sederhana, namun sarat makna kebersamaan: sayur lodeh, iwak asin, tempe goreng, kerupuk, rempah singkong, serta dadar mambu ndok yang menjadi ciri khas hidangan. Untuk sekali produksi, dapur ini menghabiskan sekitar satu setengah kuintal beras—angka yang menunjukkan skala kegiatan sosial yang terus konsisten dijalankan.

Sekitar 70 santri putri terlibat langsung dalam proses memasak hingga pengemasan. Suasana dapur terasa hidup, bukan hanya oleh aroma masakan, tetapi juga semangat khidmah dan kebersamaan di bulan suci.

Gus Syaif menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen istiqamah berbagi yang telah dirawat lebih dari satu dekade.

"Alhamdulillah, sejak 2011 kami istiqamah berbagi setiap malam ganjil Ramadhan. Edisi ke-6 ini kami kembali berupaya maksimal menyiapkan 1.500 paket untuk santri dan masyarakat sekitar. Ini berkat kekompakan dan kepedulian jamaah Mata Basah di berbagai wilayah," ujarnya.

Mata Basah sendiri telah tersebar di 186 wilayah se-Kabupaten Bojonegoro. Ribuan paket nasi takjil yang dibagikan setiap malam ganjil merupakan hasil sumbangan kolektif jamaah dari berbagai daerah tersebut. Partisipasi inilah yang membuat tradisi berbagi tetap terjaga dan relevan sepanjang masa.

Bagi Mata Basah, dapur bukan sekadar tempat memasak. Ia adalah ruang kebersamaan, tempat para santri belajar melayani, serta ladang amal bagi jamaah yang ingin berbagi keberkahan Ramadhan.

"Semoga memberi manfaat dan barokah," tandasnya.

Ramadhan pun kembali diteguhkan bukan hanya sebagai momentum peningkatan ibadah personal, tetapi juga penguat kepedulian sosial. [feb/mad]