Nilai Tukar Petani Turun 0,06 Persen

Reporter: Muharrom

blokBojonegoro.com - Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur pada Agustus 2025 sebesar 114,38 atau turun 0,06 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 114,45. Hal itu sesuai dengan rilis dan pencatatan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur (BPS Jatim). Penurunan ini menandakan bahwa pendapatan petani lebih besar dibandingkan pengeluaran mereka, sehingga produksi berlebih dibanding sebelumnya. 

Sebagaimana diketahui, NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Selain itu, NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Melalui Berita Resmi Statistik (BRS) Kepala BPS Jatim, Zulkipli, menjelaskan penurunan NTP sebesar 0,06 persen tersebut, terutama dipengaruhi oleh merosotnya NTP pada beberapa subsektor. 

"NTP Jatim pada bulan Agustus 2025 turun 0,06 persen dari 114,45 menjadi 114,38. Penurunan NTP ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani atau It turun sebesar 0,32 persen dan indeks harga yang dibayar petani KpIb turun sebesar 0,26 persen," jelas Zulkipli.

Jika dilihat perkembangan masing-masing subsektor NTP pada bulan Agustus 2025, Zulkipli menyebut, tiga subsektor pertanian mengalami penurunan NTP dan dua subsektor mengalami kenaikan NTP.

Subsektor yang mengalami penurunan NTP terdalam yaitu subsektor Hortikultura sebesar 15,34 persen dari 154,82 menjadi 131,07, diikuti subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang turun sebesar 1,52 persen dari 114,07 menjadi 112,33 dan subsektor Peternakan yang turun sebesar 0,28 persen dari 102,62 menjadi 102,33. 

“Subsektor hortikultura mengalami penurunan paling tajam sebesar 15,34 persen, diikuti subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 1,52 persen, dan peternakan turun 0,28 persen. Sementara subsektor tanaman pangan justru naik 4,36 persen, dan subsektor perikanan meningkat 0,62 persen,” ungkapnya.

Penyumbang Penurunan lt

Indeks harga yang diterima petani (lt) bulan Agustus 2025, disebutkan Zulkipli, turun 0,32 persen dibandingkan bulan Juli 2025, yaitu dari 144,43 menjadi 143,97. Penurunan indeks ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani di tiga subsektor pertanian. Penurunan tersebut tak lepas dari komoditas penyumbang yang andil dalam lt.

"Penurunan It terdalam terjadi pada subsektor Hortikultura sebesar 15,18 persen, diikuti subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat yang turun sebesar 1,67 persen, dan subsektor Peternakan yang turun sebesar 0,39 persen. Sementara itu, kenaikan It tertinggi terjadi pada subsektor Tanaman Pangan sebesar 3,91 persen, diikuti subsektor Perikanan yang naik sebesar 0,52 persen," sebut Zulkipli. 

Zulkipli menilai, terdapat sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama penurunan indeks harga yang diterima petani atau lt. 

"Sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang diterima petani bulan Agustus 2025 adalah cabai rawit, tomat, tebu, ketela pohon, telur ayam ras, kopi, buncis, ayam ras pedaging, cabai merah, dan jeruk," paparnya.

Sedangkan sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap kenaikan indeks harga yang diterima petani atau lt, Zulkipli mengungkap, terdiri dari gabah, jagung, bawang merah, tembakau, apel, ketimun, kentang, kacang kedelai, ketela rambat, dan kol/kubis.

Penyumbang Penurunan lb

Indeks harga yang dibayar petani (lb) di bulan Agustus 2025, Zulkipli juga menjelaskan, turun sebesar 0,26 persen dibandingkan bulan Juli 2025 yaitu dari 126,20 menjadi 125,88. Penurunan indeks ini disebabkan karena Indeks Konsumsi Rumah Tangga (KRT) mengalami penurunan sebesar 0,54 persen dari 130,30 menjadi 129,59 dan Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) mengalami kenaikan sebesar 0,20 persen dari 120,93 menjadi 121,17.

"Sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang dibayar petani adalah tomat sayur, cabai rawit, bensin, kacang panjang, telur ayam ras, bakalan sapi berumur lebih dari 12 bulan, jeruk, kangkung, semangka, dan bawang putih," jelas Zulkipli.

Dia menyebut, untuk sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap kenaikan indeks harga yang dibayar petani atau lb bulan Agustus 2025 adalah bawang merah, beras, bibit bawang merah, ketimun, bekatul, jagung pipilan, sigaret kretek mesin atau SKM, mi, kelapa tua, dan minyak goreng.

Relatif Menguntungkan

Meski demikian dengan hasil pengukuran NTP Jatim tersebut, Zulkipli tetap menekankan bahwa NTP Jatim masih berada di atas angka 100. Hal tersebuet berarti petani di Jawa Timur secara umum masih memiliki daya tukar yang relatif menguntungkan. 

“Kondisi ini menunjukkan bahwa pendapatan petani dari hasil produksi masih lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk kebutuhan produksi dan konsumsi rumah tangga,” ujarnya.

Zulkipli juga menjabarkan, bahwa di tingkat Pulau Jawa, tiga provinsi tercatat mengalami kenaikan NTP pada Agustus 2025, yaitu Banten (1,77 persen), DI Yogyakarta (1,13 persen), dan Jawa Tengah (0,65 persen). Sementara Jawa Timur (-0,06 persen) dan Jawa Barat (-0,53 persen) mengalami penurunan. [mu/mad]