Reporter: Muhammad
blokBojonegoro.com - Dalam literatur kitab fikih, dijumpai beberapa keterangan yang menjelaskan mengenai hukum wudhu dengan air yang terkena limbah. Menurut Qadhi Abu Suja’ ada tujuh macam air yang termasuk dalam kategori air yang dapat digunakan untuk berwudhu, yakni air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, dan air salju, dan air dari hasil hujan es.
Sebagaimana dalam keterangan beliau dalam kitab Matan Abi Suja’ halaman 25 berikut;
المياه التي يجوز التطهير بها سبع مياه: ماء السماء، وماء Ø§Ù„Ø¨ØØ±ØŒ وماء النهر، وماء البئر، وماء العين, وماء الثلج، وماء البرد
“Air yang dapat digunakan untuk bersuci ada tujuh macam, yakni air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air salju, dan air dari hasil hujan es.“
Tujuh macam air itu disebut sebagai air mutlak selama masih pada sifat asli penciptaannya. Bila sifat asli penciptaannya berubah maka ia tak lagi disebut air mutlak dan hukum penggunaannya pun berubah.
Meskipun begitu, bagi seseorang tetap diperbolehkan bersuci dengan air yang terkena limbah, selama limbah tersebut tidak sampai mengubah warna, rasa, atau bau dari air. Namun, apabila ada benda najis atau benda hasil limbah sampai larut ke dalam air, sehingga merubah warna, bau dan rasa air, maka tidak lagi dapat digunakan untuk bersuci.
Sebagaimana keterangan Imam Syafi’i, dalam kitab Al-Umm, juz 1, halaman 20 berikut,
ÙˆÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ وَقَعَ ÙÙÙŠ الْمَاء٠شَيْءٌ ØÙŽÙ„َالٌ Ùَغَيَّرَ لَه٠رÙÙŠØÙ‹Ø§ أَوْ طَعْمًا، وَلَمْ ÙŠÙŽÙƒÙنْ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽØ§Ø¡Ù Ù…ÙØ³Ù’تَهْلَكًا ÙÙيه٠Ùَلَا بَأْسَ أَنْ يَتَوَضَّأَ بÙه٠وَذَلÙÙƒÙŽ أَنْ يَقَعَ ÙÙيه٠الْبَان٠أَوْ الْقَطْرَان٠Ùَيَظْهَر٠رÙÙŠØÙه٠أَوْ مَا أَشْبَهَهÙ. ÙˆÙŽØ¥Ùنْ أَخَذَ مَاءً ÙÙŽØ´Ùيبَ بÙه٠لَبَنٌ أَوْ سَوÙيقٌ أَوْ عَسَلٌ Ùَصَارَ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽØ§Ø¡Ù Ù…ÙØ³Ù’تَهْلَكًا ÙÙيه٠لَمْ ÙŠÙØªÙŽÙˆÙŽØ¶Ù‘َأْ بÙÙ‡ÙØ› Ù„ÙØ£ÙŽÙ†Ù‘ÙŽ الْمَاءَ Ù…ÙØ³Ù’تَهْلَكٌ ÙÙيه٠إنَّمَا ÙŠÙقَال٠لÙهَذَا مَاء٠سَوÙيق٠وَلَبَن٠وَعَسَل٠مَشÙوبٌ
“Jika ada air kemasukan benda halal (suci) kemudian mengubah bau dan rasanya sedangkan antara benda yang membuat berubah dan air tidak melebur jadi satu, maka wudhu menggunakan air yang seperti ini hukumnya sah. Misalnya ada air kemasukan kayu atau tir kemudian baunya menyengat atau sejenisnya."
Jika ada orang mengambil air, lalu dicampur dengan susu, tepung atau madu sehingga airnya larut menjadi satu, maka wudhu dengan air seperti ini hukumnya tidak sah. Karena air larut bersama benda dan mengubah netralitas nama air, bisa menjadikan namanya berubah menjadi air tepung, air susu, dan air madu.”
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa seseorang tetap diperbolehkan bersuci dengan air yang terkena limbah, selama limbah tersebut tidak sampai mengubah warna, rasa, atau bau dari air. Namun, apabila ada benda najis atau benda hasil limbah sampai larut kedalam air, sehingga mengubah warna, bau dan rasa air, maka tidak lagi dapat digunakan untuk bersuci. [mad]
*Dikutip dari laman Resmi Kemenag RI dan diproduksi Tim Layanan Syariah, Ditjen Bimas Islam
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published