Tekan Banjir dan Lindungi Petani, DPRD Bojonegoro Dorong Pembangunan Pintu Air di Sukorejo

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Upaya penanganan banjir yang hampir setiap tahun melanda Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, mendapat perhatian serius dari DPRD Kabupaten Bojonegoro. Wakil Ketua DPRD Bojonegoro, Bambang Sutriyono, bersama Pemerintah Desa Sukorejo, kepala desa, serta dua kelompok tani (poktan) meninjau langsung sejumlah titik rawan banjir yang kerap terdampak saat curah hujan tinggi.

Dalam peninjauan tersebut, Bambang Sutriyono menyampaikan bahwa banjir selama ini berdampak signifikan terhadap sektor pertanian dan permukiman warga. Sawah milik petani kerap terendam air dan menimbulkan kerugian, bahkan pada kondisi tertentu banjir sempat merendam rumah warga hingga hampir separuh bangunan.

"Kami sudah menyisir langsung lokasi penyebab terjadinya banjir. Dari hasil peninjauan, ada dua solusi yang kami temukan, yaitu pembangunan pintu air di lokasi ini dan satu lagi di aliran air sebelah utara," ujar Bambang di sela kegiatan.

Ia menegaskan, penanganan banjir membutuhkan upaya bersama antara petani, masyarakat, pemerintah desa, DPRD, serta pemerintah daerah dan instansi terkait. Menurutnya, penanganan banjir merupakan tanggung jawab pemerintah dalam menjamin keberlangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani.

Politisi dari partai berlambang banteng ini juga optimistis, apabila pembangunan pintu air dapat terealisasi, ketahanan pangan di Desa Sukorejo akan semakin kuat. Ia meyakini penguatan ketahanan pangan di tingkat desa akan berdampak langsung pada ketahanan pangan Kabupaten Bojonegoro secara keseluruhan.

"Kalau ketahanan pangan di desa kuat, saya yakin ketahanan pangan Bojonegoro juga akan kuat. Saat ini Bojonegoro nomor tiga penghasil beras, semoga dengan perhatian serius pemerintah daerah dan DPRD terhadap persoalan petani, Bojonegoro bisa menjadi nomor satu penghasil gabah di Jawa Timur," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sukorejo, Meyke Lelyanasari, menjelaskan bahwa banjir di wilayahnya sudah menjadi persoalan rutin yang terjadi hampir setiap musim hujan. Ia menyebut, terdapat dua arus masuk Kali Afur yang mengalir ke arah TPK dan kerap meluap saat debit air meningkat.

"Permasalahan petani saat ini sebenarnya hanya soal pengendalian debit air. Karena itu beberapa waktu lalu saya mengajak beliau untuk meninjau langsung ke lokasi," kata Meyke saat dikonfirmasi blokBojonegoro.com, Jumat (30/1/2026).

Ia berharap, hasil peninjauan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui pengusulan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro untuk pembangunan pintu air di dua arus masuk Kali Afur tersebut. Menurutnya, keberadaan pintu air sangat dibutuhkan agar aliran air tidak langsung masuk ke area persawahan dan permukiman warga ketika debit air naik.

"Semoga kalau ini bisa tertanggulangi, manfaatnya akan besar, termasuk menambah produksi petani yang ada. Masyarakat juga tidak terus-menerus kebanjiran. Kasihan, lingkungannya masih terkesan kumuh, apalagi kalau habis banjir kondisinya jadi jauh lebih memprihatinkan," pungkasnya.

Adapun lokkasi yang menjadi perhatian berada di bawah RT 29, pojok pedalaman TPK, yang selama ini menjadi salah satu titik rawan luapan air saat musim hujan. [feb/mad]