Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Perjalanan hidup Indra Saputra (29), warga Desa Gunung Megang Dalam, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, berakhir di Kabupaten Bojonegoro. Setelah meninggal dunia akibat tertabrak kereta api di Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, jenazah pria pengejar cinta itu, dimakamkan di Kabupaten Bojonegoro, Jumat (16/1/2026).
Pemakaman dilakukan di Tempat Pemakaman Khusus milik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro yang berlokasi di Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro Kota. Keputusan pemakaman di Bojonegoro diambil setelah pihak keluarga menyatakan pasrah dan tidak mengambil jenazah untuk dimakamkan di daerah asalnya.
Kapolsek Kalitidu, AKP Saefudinuri mengungkapkan, keputusan tersebut telah disampaikan secara resmi oleh keluarga korban melalui surat pernyataan penyerahan jenazah kepada pihak kepolisian.
“Pihak keluarga telah membuat surat pernyataan penyerahan jenazah dan menyatakan tidak mengambil jenazah untuk dibawa ke daerah asal,” ungkap AKP Udin.
Setelah dilakukan koordinasi antara kepolisian dan pihak RSUD dr R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, disepakati bahwa jenazah Indra Saputra dimakamkan di pemakaman khusus milik rumah sakit pelat merah tersebut.
Proses pemakaman dipimpin oleh staf Instalasi Forensik RSUD dr R. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, Mundhofar. Ia memastikan seluruh rangkaian pemakaman dilakukan sesuai dengan syariat Islam.
“Jenazah telah kami makamkan pagi ini di pemakaman khusus milik RSUD dr R. Sosodoro Bojonegoro. Proses pemakaman dilakukan sesuai dengan tata cara agama Islam,” jelas Mundhofar.
Untuk diketahui, dibalik tragedi tersebut, terungkap kisah pilu yang menyentuh hati. Indra Saputra diketahui datang jauh dari Sumatera Selatan ke Kabupaten Bojonegoro untuk menemui seorang perempuan yang dicintainya dan tinggal di wilayah Desa Talok, Kecamatan Kalitidu. Namun, harapannya pupus setelah perempuan tersebut enggan menemuinya.
Selama berada di Desa Talok, korban kerap terlihat berjalan mondar-mandir di sekitar jalur rel kereta api. Warga setempat juga menyebut Indra sering tidur di halaman toko dan teras rumah warga, karena tidak memiliki tempat tinggal tetap. [riz/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published