Ibu dan Peradaban
Choirul Anam

Oleh: Choirul Anam*

blokBojonegoro.com - Setiap 22 Desember, kita kembali mengucapkan dua kata yang terdengar sederhana, tetapi sarat makna: Selamat Hari Ibu. Di media sosial, linimasa dipenuhi foto bunga, kartu ucapan, dan kalimat haru tentang pengorbanan seorang ibu. Namun, di balik perayaan itu, ada pertanyaan penting yang sering luput kita renungkan: sejauh mana kita memahami peran ibu—bukan hanya di ruang domestik, tetapi juga dalam sejarah nasional dan percaturan global?

Hari Ibu di Indonesia bukan sekadar hari perayaan kasih sayang seperti di banyak negara lain. Ia lahir dari sejarah politik dan kesadaran kolektif perempuan. Bermula dari Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta, Hari Ibu menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, keterkungkungan, dan ketimpangan peran perempuan dalam masyarakat kolonial (Blackburn, 2004). Jadi sejak awal, Hari Ibu kita adalah hari perjuangan, bukan sekadar perayaan.

Namun, perjuangan itu justru berangkat dari ruang yang sering diremehkan: rumah. Peran domestik kerap dianggap “biasa”, bahkan kadang dilabeli sebagai penghambat kemajuan perempuan. Padahal, dari dapur, ruang tidur, dan meja makan, ibu sedang membangun fondasi peradaban. Di sanalah nilai pertama ditanamkan, bahasa pertama diajarkan, dan empati pertama dilatih.

Sosiolog Talcott Parsons menyebut keluarga sebagai unit dasar pembentukan kepribadian sosial. Dalam konteks ini, ibu memegang peran sentral sebagai pendidik awal (primary educator). UNICEF bahkan menegaskan bahwa kualitas pengasuhan ibu berpengaruh langsung pada kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Dengan kata lain, ibu yang sabar mengajari anak membaca di rumah, sejatinya sedang ikut menentukan arah masa depan negara.

Sayangnya, kerja domestik ini sering tak tercatat dalam statistik ekonomi. Ia tidak digaji, tidak dihitung dalam Produk Domestik Bruto (PDB), namun tanpanya, roda ekonomi mustahil berputar. Ekonom feminis seperti Marilyn Waring dalam If Women Counted mengkritik keras sistem ekonomi modern yang mengabaikan kerja-kerja reproduktif dan perawatan—wilayah yang mayoritas dijalani ibu.

Sejarah Indonesia mencatat peran ibu bukan hanya sebagai penjaga rumah, tetapi juga penjaga nilai dan penggerak perubahan. Dari RA Kartini yang menggugat ketidakadilan pendidikan, hingga Martha Christina Tiahahu yang mengangkat senjata, peran ibu selalu hadir dalam denyut perjuangan bangsa.

Pada masa kemerdekaan, banyak ibu yang rela melepas anak dan suaminya ke medan perang, bahkan tak sedikit yang ikut bergerilya. Setelah kemerdekaan, peran ibu bergeser menjadi agen pembangunan—di sekolah, posyandu, organisasi sosial, hingga parlemen.

Data BPS menunjukkan peningkatan signifikan partisipasi perempuan dalam pendidikan dan sektor publik. Meski masih menghadapi ketimpangan, ibu-ibu Indonesia kini hadir sebagai guru, tenaga kesehatan, aktivis, birokrat, hingga pemimpin daerah. Mereka membuktikan bahwa peran domestik tidak meniadakan peran publik; justru sering kali keduanya saling menguatkan.

Di tingkat global, peran ibu juga tak bisa dipandang sebelah mata. Konsep motherhood leadership yang diperkenalkan oleh sejumlah pemikir gender menunjukkan bagaimana nilai keibuan—empati, kepedulian, dan ketahanan—menjadi kekuatan dalam diplomasi dan kepemimpinan global.

Tokoh seperti Michelle Bachelet, mantan Presiden Chili dan Komisaris Tinggi HAM PBB, sering mengaitkan kebijakan sosialnya dengan pengalaman sebagai ibu. Di banyak negara berkembang, ibu menjadi garda terdepan dalam isu kesehatan, pendidikan, perdamaian, dan perubahan iklim.

UN Women mencatat bahwa keterlibatan perempuan, termasuk ibu, dalam proses perdamaian meningkatkan peluang keberhasilan dan keberlanjutan perdamaian hingga 35 persen. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai yang tumbuh dari pengalaman mengasuh—kesabaran, negosiasi, dan ketahanan—ternyata relevan di tingkat internasional.

Memaknai Hari Ibu

Memperingati Hari Ibu seharusnya tidak berhenti pada bunga dan ucapan manis. Ia perlu menjadi momen refleksi: apakah kita sudah adil pada ibu? Apakah kerja domestik sudah dihargai? Apakah kebijakan publik sudah ramah ibu—dari cuti melahirkan, layanan kesehatan, hingga perlindungan sosial?

Hari Ibu adalah pengingat bahwa peran ibu bersifat utuh dan berlapis. Ia hadir di rumah, berkontribusi pada bangsa, dan berdampak pada dunia. Merayakan ibu berarti menghormati seluruh perannya, bukan memenjarakannya dalam satu label.

Pada akhirnya, dari dapur yang sunyi hingga forum internasional yang gemerlap, ibu selalu bekerja—sering tanpa tepuk tangan, tetapi dengan dampak yang panjang. Maka, selamat Hari Ibu. Terima kasih telah menjaga rumah, membangun bangsa, dan ikut merawat dunia. [mad]

*Ketua PAC Ansor Balen dan Pengurus Pusat IKAMI Attanwir Talun