Berita Foto
Jagung Dipanen Paksa, Kebanjiran Bengawan Solo
Tampak, warga Desa Sarangan, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sedang memanen secara paksa jagung. Sebab, lokasinya di bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.
Tampak, warga Desa Sarangan, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sedang memanen secara paksa jagung. Sebab, lokasinya di bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.
Saat air sudah berada di level Siaga Merah (siaga 3), maka kecamatan di bantaran Sungai Bengawan Solo sudah mulai kebanjiran. Jika ada luberan air, maka 14 kecamatan sudah terbiasa menjadi langganan.
Peningkatan tinggi air sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro terus naik sampai siang hari. Bahkan, pukul 12.00 WIB telah masuk Siaga 1 (Hijau).
Informasi blokBojonegoro.com, Senin (16/12/2024) dari data Perusahaan Umum Jasa Tirta Divisi Jasa Asa III Bengawan Solo yang dilansir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menjelaskan, pada pukul 00.00 WIB di papan ukur Kota Bojonegoro ketinggian air masih di angka 10.42 phielschall.
Sejak pagi, Sabtu (14/12/2024), mendung tebal tampak menggelayut di langit wilayah Kabupaten Bojonegoro sebelah timur.
Mahasiswa KKN Kelompok 9 UNUGIRI Bojonegoro, dengan program kerja Desa Pendidikan menggelar sosialisasi mengenai permasalahan remaja, di antaranya bahaya pernikahan dini, bullying, dan kekerasan seksual di Aula SMPN 2 Kedungadem. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 10.00 WIB ini mendapat sambutan antusias dari siswa-siswi serta dukungan penuh dari pihak sekolah.
Sejak mulai musim penghujan, debet air di Bengawan Solo baru hari ini menembus siaga, walupun masih Siaga Hijau. Tepatnya di angka 12.39 phielschall untuk papan ukur di Kota Bojonegoro.
Ratusan warga Kabupaten Bojonegoro berburu ikan mabuk di Sungai Bengawan Solo. Fenomena tersebut, kerap terjadi ketika memasuki musim penghujan, dan tinggi muka air (TMA) meningkat.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati meminta masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama periode Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru).
Tiga nama rupabumi di Kabupaten Bojonegoro diminta untuk menjadi bahan evaluasi Pemkab Bojonegoro. Pasalnya, tiga nama rupabumi ini, menjadi sorotan beberapa kalangan, lantaran menyerupai nama seseorang.