Komitmen eliminasi Tuberkulosis (TBC) tahun 2030 terus diperkuat oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro. Berbagai langkah strategis dilakukan menuju ke sana melalui kolaborasi dengan berbagai stakeholder.
Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Bojonegoro kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Inovasi Pelayanan Terpadu Tuberkulosis milik Puskesmas Temayang, yang dikenal dengan nama PELTU Tatang, resmi masuk Top 45 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Provinsi Jawa Timur (KOVABLIK) 2025, setelah sebelumnya lolos seleksi Top 99. Pengumuman tersebut disampaikan pada Jumat, 12 Desember 2025 di Fairfield Hotel Marriot Surabaya, menjadi bukti nyata komitmen daerah dalam percepatan eliminasi TBC.
Penyakit TBC atau singkatan dari Tuberkulosis, masih menjadi masalah kesehatan global dan nasional. Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan beban kasus terbanyak kedua sebanyak 1,9 juta ribu jiwa dan kematian 125 ribu atau setara dengan 14 kematian per jam.
TBC atau singkatan dari Tuberkulosis, saat ini masih termasuk sangat tinggi untuk temuan jenis penyakit di Kabupaten Bojonegoro. Data di Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, lanjut dia, hingga Oktober 2025 telah menemukan kasus TBC sebanyak 2.366 kasus atau 78 persen dari penemuan kasus yang ditarget Kemenkes RI.
Di Kabupaten Bojonegoro, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, hingga Oktober 2025 telah menemukan kasus TBC sebanyak 2.366 kasus atau 78 persen dari penemuan kasus yang ditarget Kemenkes RI. Masyarakat yang telah mengikuti pengobatan sebanyak 2.140 kasus atau 90 persen. Sedangkan angka keberhasilan pengobatan 98 persen atau 2.308 kasus.
Minimalisir penularan penyakit Tuberkulosis (TBC) maupun Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO), Dinas Kesehatan menggelar sosialisasi dan ingin mengajak warga lebih mengenali cara penanganan TBC dengan benar.
Musibah global Covid-19 telah menguras tenaga, waktu, dan perhatian Pemerintah, dunia usaha, dan berbagai lapisan masyarakat untuk bertahan di tengah pandemi. Kecepatan penyebaran SARS-Cov-2 mengharuskan banyak perusahaan gulung tikar dan memaksa layanan esensial, termasuk di sektor kesehatan, terhenti. Sementara pandemi membuat kita tertekan, perkara penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) terus melaju dan berpotensi menambah beban penyakit di masyarakat.
Berakhirnya tutup tahun 2020, menjadi akhir pula program SSR TB-HIV Care Aisyiyah di Kabupaten Bojonegoro. Namun organisasi otonom Muhammadiyah itu tetep melanjutkan perhatiannya terhadap isu-isu Tubercolosis dan Human Immunodeficiency Virus, melalui GRASS (Gerakan Aisyiyah Sehat).