Kolom
Literasi sebagai Jalan Emansipasi
Pagi itu, di sebuah ruang tamu yang juga merangkap ruang belajar, saya melihat pemandangan yang terasa sederhana, tapi diam-diam revolusioner. Seorang ibu muda duduk bersila di lantai, di depannya terbuka buku cerita anak. Di sampingnya, ponsel menyala menampilkan video tutorial membaca nyaring. Anaknya, mungkin berusia lima tahun, menyimak dengan mata berbinar—kadang tertawa, kadang menirukan suara ibunya yang berubah-ubah mengikuti tokoh cerita.