Anggota Komisi 11 Dewan Perwakilan Rakyat Republik (DPR RI), Farida Hidayati menggelar Reses sekaligus silaturahmi bersama Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Bojonegoro.
Maraknya isu radikalisme di masyarakat menjadi salah satu permasalahan yang harus segera diatasi. Anggota Komisis XI DPR RI Farida Hidayati menggelar sosialisasi 4 pilar. Yakni Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 45. Acara tersebut digelar di aula kantor PC NU Bojonegoro, Kamis (4/2/2021).
Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik (DPR RI), Farida Hidayati menggelar Reses sekaligus tatap muka bersama jajaran Pengrus Anak Cabang (PAC) dan Ranting Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) se-Kecamatan Dander, Senin (21/12/2020).
Anggota Komisi IV DPR RI Farida Hidayati, mengadakan Sosialisasi 4 (Empat) Pilar Kebangsaan dan Silaturohmi ke wilayah yang menjadi Daerah Pemilihannya (Dapil) Bojonegoro - Tuban, Jawa Timur. Anggota Komisi IV DPR RI tersebut menggelar Sosialisasi dan Silaturohmi di Pondok Pesantren Mifathul Hikmah, Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Minggu (15/11/2020).
Anggota Komisis VI DPR RI Farida Hidayati menghadiri panen raya jagung bersama para petani di Desa Glagahwangi, Kecamatan Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro, Senin (5/10/2020). Tak hanya ikut memanen, Farida Hidayati juga memberikan bantuan Alat mesin pertanian (Alsintan) kepada kelompok tani desa setempat.
Anggota Komisis VI DPR RI, Farida Hidayati meminta skema penerapan kebijakan hidup normal baru (New Normal) disaat wabah COVID-19 yang saat ini sedang digagas oleh pemerintah juga memperhatikan keberlangsungan di pondok pesantren. Sebab, pesantren sejak dulu telah memberikan sumbangsih besar pada bangsa Indonesia.
Keputusan yang dilontarkan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan baru Prof. Dr. Muhadjir Effendy tentang Full Day School (FDS) menuai kontroversi dan membuat gaduh di masyarakat. Nantinya kalau gagasan ini diterapkan, selama seharian penuh, siswa akan berada di bangku sekolah. Tujuannya menurut menteri Muhajir Effendy adalah untuk membentuk karakter siswa. Alasan lain, karena ketika siswa pulang lebih dini, pergaulan siswa tidak terkontrol kedua orang tua sibuk bekerja dan baru pulang sore hari. Akibatnya, siswa bebas keluyuran di luar rumah dan akan melakukan banyak perbuatan negatif tanpa ada pengawasan dari orang tua.
Setiap tanggal 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Peringatan yang merujuk pada lahirnya Raden Ajeng Kartini, 21 April 1879. Kartini hidup pada zaman ketika kekuatan budaya masyarakat sangat permisif memandang perempuan. Zaman ketika budaya feodalisme dan patriaki masih dijunjung tinggi di bumi Nusantara. Zaman ketika perempuan harus menanggung “double colonisation” (Kirsten Holst Petersen & Anna Rutherford, Beginning Postcolonialism, 2008). Penjajahan dari bangsa asing dan penjajahan dari bangsa sendiri yakni budaya patriaki.