Endemik Bengawan Solo (1)
Ikan Arengan atau Areng-Areng
Warga di bantaran Bengawan Solo dari hulu sampai hilir hampir dipastikan mengenal ikan Arengan atau wilayah lain menyebut Areng-Areng.
Warga di bantaran Bengawan Solo dari hulu sampai hilir hampir dipastikan mengenal ikan Arengan atau wilayah lain menyebut Areng-Areng.
Kejadian menyayat hati pada Rabu (3/11/2021) pagi sekitar sebulan lalu masih membuat warga di Desa Semambung, Kecamatan Kanor, Bojonegoro trauma.
Hampir satu bulan musibah perahu tenggelam di penyebrangan gemblo, antara Desa Semambung, Kecamatan Kanor, Bojonegoro dan Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Kondisi Terkini Jembatan KaRe Pasca Tragedi Memilukan
Wilayah Bengawan Solo di hilir yakni Kabupaten Bojonegoro masih belum aman, meski air cenderung surut karena di hulu tidak terjadi banjir. Namun mengingat intensitas hujan tinggi diperkirakan debit air sungai terpanjang di pulau jawa itu bisa naik lagi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, mengimbau masyarakat mewaspadai hujan deras dan angin kencang yang berpotensi terjadi hingga bulan Februari 2022 mendatang.
Saat ini, masyarakat di bantaran Bengawan Solo bisa terbantu dengan keberadaan media sosial (Medsos). Terutama saat memantau perkembangan pladu, atau ikan tengah "mabuk".
Setiap awal musim penghujan, air Bengawan Solo akan mengalami penambahan signifikan. Saat itu, warnanya berubah menjadi cokelat gelap.
Hujan yang mengguyur wilayah hulu Bengawan Solo membuat debet sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut bertambah drastis.
Mulai dinihari, Minggu (21/11/2021), ketinggian air di Bengawan Solo mulai turun. Bahkan bisa dibilang cukup cepat.