Meskipun kuota haji buat Calon Jemaah Haji (CJH) lanjut usia (Lansia) belum ada kepastian, puluhan CJH yang sudah berusia lanjut sudah mulai mendaftar ke kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bojonegoro untuk berangkat lebih dulu ke tanah suci.
Alunan irama gamelan begitu nyaring, sesekali suara melengking saling bersahutan seolah menyampaikan pesan pitutur yang luhur tersirat dalam tembang yang dibawakan oleh puluhan siswa yang tergabung dalam kelompok seni Karawitan "Widiya Laras". Alunan tembang itu terdengar dari Halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kunci 1, Kecamatan Dander
Operator minyak dan gas bumi Lapangan Banyuurip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama kepala desa, Puskesmas Gayam, dan Pemerintah Kecamatan Gayam melakukan monitoring bersama program jamban sehat. Monitoring dilakukan di lima desa di kecamatan setempat pada Kamis (20/4/2017) antara lain Desa Cengungklung, Manukan, Sudu, Beged, dan Desa Ngraho.
Setelah ada kepastian dari Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemanag) Provinsi Jawa Timur untuk pemanggilan Calon Jemaah Haji (CJH) Kabupaten Bojonegoro yang akan berangkat tahun 2017, beberapa jemaah mulai melakukan pelunasan. Namun dari ratusan jemaah yang dipanggil, baru lima puluh persen yang sudah melunasi biaya berangkat ke tanah suci.
Berdasar pada data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bojonegoro, secara astronomis Kabupaten Bojonegoro terletak pada posisi 112°25´-112°09´ BT dan 6°59´-7°37´ LS, serta jumlah penduduk sebesar 1.450.889 jiwa. Luas dan banyaknya penduduk ini tidak dapat dipungkiri bahwa Bojonegoro bisa semakin Matoh. Hal ini juga sesuai dengan jargon masa pemerintahan Bupati Suyoto, M.Si yaitu ‘Bojonegoro Matoh’. Bupati Suyoto juga membuat lagu dengan judul ‘Bojonegoro Matoh’. Salah satu lirik yang bisa digarisbawahi adalah Bojonegoro semangat berbenah, Bojonegoro tak henti berkarya, Bojonegoro semua pasti suka, Bojonegoro matoh. Pada lirik ini sangat memotivasi masyarakat untuk selalu membuat inovasi-inovasi yang bisa menjadikan Bojonegoro lebih matoh di-era selanjutnya. Untuk itu pada tulisan kali ini saya menawarkan tiga pilar yang nantinya dapat dijadikan sebagai penopang Kabupaten Bojonegoro agar semakin matoh. Pilar tersebut yaitu:
Pembangunan pintu air atau cek dam di Desa Pilanggede, Kecamatan Balen sudah selesai. Proyek yang dikerjakan oleh PT. Daya Patra itu, tinggal menyisakan tanah di sekitar bangunan untuk dikembalikan seperti semula.
Sebagai salah satu daerah yang dulunya dipandang miskin, kolot dan sangat dekat dengan konflik, Bojonegoro berangsur berubah. Dengan role model yang diterapkan Bupati Bojonegoro, Suyoto (Kang Yoto), gaung dari kota ledre ini perlahan menunjukan tajinya. Akses jalan rusak membaik, pendidikan berangsur meningkat dan pelan tapi pasti masyarakatnya juga kian memahami konteks masalah yang tengah mendera. Lantas apa yang membikin demikian bisa terjadi?
Setelah berjalan beberapa bulan dengan serangkaian kegiatan di keluarga, Program Gerakan Masyarakat Peduli HIV/AIDS (GeMas HIV/AIDS) hasil kemitraan Kampus Ungu, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada (STIKes ICsada) Bojonegoro dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) memasuki aksi bersama. Yakni melibatkan banyak pihak dan warga empat desa di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.
Meski sempat kabur dari kejaran pemilik toko, Copet alias Lontong (21) warga Jalan KH. Manshur Kelurahan Ledok Kulon akhirnya harus meringkuk di sel Mapolres Bojonegoro. Dia ditangkap petugas setelah mencuri handphone dan uang di komplek pertokoan Podomoro Desa Pacul, Kota Bojonegoro.
Kasat Reskrim Polres Bojon