Harga Bawang Merah di Bojonegoro Selatan Terus Naik
Petani bawang Kabupaten Bojonegoro di bagian selatan seolah mendapatkan angin segar. Sebab, saat ini harga jual bawang merah terus mengalami kenaikan.
Petani bawang Kabupaten Bojonegoro di bagian selatan seolah mendapatkan angin segar. Sebab, saat ini harga jual bawang merah terus mengalami kenaikan.
Harga bawang merah di Kabupaten Bojonegoro dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan yang cukup drastis. Bahkan, kenaikan tersebut mencapai Rp10.000 per kilogramnya, dari harga awal Rp12.000 menjadi Rp22.000.
Harga bawang merah yang anjlok, membuat Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro, beberapa waktu lalu berencana akan Ikut melaksanakan lelang komoditi bawang merah ke tingkat provinsi. Namun akhirnya lelang tersebut batal dan diganti dengan komoditi lain.
Hujan yang terjadi beberapa hari terakhir membuat sebagian tanaman bawang merah boler (kerusakan pada daun). Bawang yang rusak itu berada di Dusun Bandotan, Desa Krondonan, Kecamatan Gondang.
Memasuki musim tanam, para petani di Kecamatan Sukosewu, diimbau untuk sementara tidak menanam bawang merah. Pasalnya, bawang merah saat ini harga jualnya masih rendah dikarenakan stok bawang merah masih melimpah.
Petani bawang merah di Kecamatan Sekar kian semangat merawat tanaman bawang miliknya. Sebab, saat ini harga mulai merangkak naik.
Biasanya pusat bawang merah di Kabupaten Bojonegoro selatan meliputi Kecamatan Temyang, Gondang dan Sekar. Namun, saat ini sebagian petani Kecamatan Bubulan juga mulai mencoba peruntungan dengan menanam bawang merah.
Meski harga jual bawang merah saat ini tergolong murah, hal itu tak membuat para petani di Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro berhenti menanam bumbu dapur wajib itu. Terbukti, saat ini para petani Sekar sudah mulai menanam bawang.
Sebagian petani bawang merah di Kecamatan Sekar terpaksa menimbun hasil panen bawang merah mereka di dalam rumah karena harganya murah. Namun, saat ini mereka sedikit gembira, sebab harga bawang mulai naik.
Harga jual bawang merah di Bojonegoro yang anjlok membuat para petani menngeluh, bahkan harga di tingkat petani hanya Rp3.000 perkilogram.