Faktor cuaca yang tidak menentu akan turunnya hujan di Kabupaten Bojonegoro, membuat sejumlah petani harus menunda masa tanam padi. Dengan kondisi seperti itu, tentu bisa mempengaruhi hasil produksi padi saat panen.
Salah satu problema usaha tani sekarang adalah berkurangnya tenaga kerja pertanian. Jumlah petani semakin berkurang. Sementara anak-anak muda jarang yang bercita-cita menjadi petani. Agar tahapan tanam padi/tandur tidak lambat dan serempak petani di Gabungan Kelompok Tani ( Gapoktan) Bumiarto desa Krangkong, Kecamatan Kepohbaru menggunakan alat menanam padi dengan mesin yang disebut Rice Transplanter. Dengan menggunakan Alat mesin pertanian (Alsintan) ini tandur cepat dan lebih hemat biaya.
Dasarian pertama Desember 2018 ini wilayah Desa Balenrejo Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro sudah memasuki musim penghujan. Sehingga para petani mulai turun ke sawah untuk membuat lahan persemaian bibit padi.
Hujan yang beberapa kali mengguyur wilayah Bojonegoro bisa dipastikan bahwa masa tanam setelah kemarau akan tiba, tentu kebutuhan akan pupuk para petani meningkat.
Objek wisata Growgoland yang dikelola oleh pihak LMDH Warna Abadi Dander terus bergerak untuk menciptakan wisata yang edukatif tentang alam. Setelah menanam 100 bibit Mejuwet, kini LMDH berupaya untuk menanam 1000 bibit tanaman kelor.
Memasuki masa tanam pada musim hujan di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro mengklaim bahwa pupuk bersubsidi yang tersisa mampu mencukupi kebutuhan para petani yang ada.
Suhu cuaca panas diBojonegoro memang butuh penanganan serius, terlebih lagi keberadaan proyek minyak dan gas bumi (Migas) di Bumi Angling Dharma dinilai memicu adanya pemanasan global sehingga suhu panas di Bojonegoro mencapai 40 derajat.
Awal musim penghujan ini lahan di dekat hutan tampak ramai petani yang sedang bercocok tanam. Memasuki musim penghujan ini, sebagiam besar petani menanami lahan tadah hujan milik pribadi atau pun lahan milik Perhutani dengan tanaman jagung.