PMI Gelar Muskerkab untuk Meningkatkan Pelayanan
Sebagai evaluasi kinerja, PMI Kabupaten Bojonegoro menggelar Musyawarah Kerja Kabupaten (Mukerkab) di kantor Unit Donor Darah (UDD), Selasa (9/12/2019).
Sebagai evaluasi kinerja, PMI Kabupaten Bojonegoro menggelar Musyawarah Kerja Kabupaten (Mukerkab) di kantor Unit Donor Darah (UDD), Selasa (9/12/2019).
Angin kencang masih diwaspadai oleh sebagian besar wilayah di Kabupaten Bojonegoro. Minggu (24/11/2019) sore, beberapa kecamatan diporak porandakan angin yang menyebabkan banyak rumah dan fasilitas umum rusak.
Bencana angin kencang di Kabupaten Bojonegoro pada 9, 11, 12 dan 13 November 2019, membuat taksiran kerugian mencapai Rp3.574.700.000.
Selama bencana angin kencang di Kabupaten Bojonegoro menerpa pada 9, 11, 12 dan 13 November 2019, sekitar 46 pohon roboh. Lokasi tidak hanya di Kota Bojonegoro saja, melainkan di belasan kecamatan.
Bencana angin kencang di Kabupaten Bojonegoro selama empat hari, yakni 9, 11, 12 dan 13 November 2019, merusak banyak bangunan. Terutama rumah milik warga di berbagai kecamatan.
Bencana alam yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja, tapi organisasi masyarakat. Hal itu yang dilakukan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bojonegoro melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), sudah menyiapkan strategi penanggulangan bencana di Kota Ledre.
Setelah seminggu terakhir ini bencana puting beliung menghantam Kabupaten Bojonegoro, Pemkab Bojonegoro telah menetapkan Kota Ledre dengan status darurat kebencanaan.
- Hujan yang disertai angin kencang yang terjadi Sabtu (9/11/2019) lalu, menyebabkan beberapa rumah, gedung yang ada di sekitar Kota Bojonegoro mengalami kerusakan parah. Bahkan beberapa pohon juga tumbang sehingga menyebabkan aliran listrik di wilayah Kota Bojonegoro padam dan seakan kondisinya seperti kota mati karena gelap gulita.
Potensi bencana di Kabupaten Bojonegoro menjadi ancaman bersama. Sehingga untuk meminimalisir dampak bencana tersebut, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Bojonegoro mengadakan rapat koordinasi pengurangan risiko bencana.
Musim kemarau panjang dan cuaca ekstrim yang melanda Kabupaten Bojonegoro dan wilayah lain, membuat debet air menyusut tajam. Bahkan, di bantaran sungai Bengawan Solo, tidak sedikit sumur bor milik warga yang airnya tidak keluar.