Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Menghadapi musim kemarau yang kerap membuat sumur warga mengering, puluhan perempuan di Kabupaten Bojonegoro bergerak menyiapkan cadangan air tanah. Mereka membuat lubang biopori, menanam pohon, dan merawat fasilitas konservasi air melalui gerakan Banyu Kanggo Urip 2026.
Di Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, upaya itu mulai terlihat di pekarangan rumah warga Dusun Sidokumpul. Air hujan yang sebelumnya mengalir menuju selokan kini diarahkan masuk ke lubang-lubang biopori agar meresap ke dalam tanah.
Sri Muji Asih, warga Desa Leran, mengatakan kemarau panjang tahun ini membuat banyak sumur warga mengering. Kondisi tersebut mendorong dirinya bersama perempuan setempat untuk mempelajari sekaligus mempraktikkan upaya konservasi air.
"Jadi ketika hujan seperti kemarin, air langsung masuk ke lubang biopori. Setidaknya ada air yang tersimpan di dalam tanah untuk cadangan sumur kami," ungkap Sri kepada media, Sabtu (24/10/2026).
Sri menjadi salah satu penggerak Srikandi Penyelamat Bumi, kelompok yang beranggotakan 40 perempuan dari empat desa. Mereka berasal dari Desa Leran dan Wotanngare di Kecamatan Kalitidu, Sedah Kidul di Kecamatan Purwosari, serta Desa Kedung di Kecamatan Padangan.

Para anggota kelompok berkomitmen merawat ribuan sarana biopori, iopori, serta fasilitas penunjang mata air di wilayah masing-masing. Upaya tersebut diharapkan membantu menjaga ketersediaan air tanah sekaligus meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi kemarau.
Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengatakan perempuan memiliki peran penting dalam upaya adaptasi terhadap perubahan iklim. Sebab, ketika sumber air mengering, perempuan kerap menghadapi langsung kesulitan memenuhi kebutuhan air rumah tangga.
"Ibu-ibu yang paling memutar otak memenuhi kebutuhan air rumah tangga saat kemarau. Karena itu, merawat biopori adalah langkah nyata menabung air hujan untuk masa depan," tutur Cantika.
Gerakan ini merupakan bagian dari program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang bekerja sama dengan Yayasan Sikas Nusantara. Melalui program tersebut, sebanyak 500 unit biopori dan 13 unit iopori disalurkan secara bertahap kepada kelompok Srikandi di desa-desa sasaran.
Perwakilan EMCL, Wahyu Sadewo, menyebut kemampuan biopori menyerap air hujan menjadi salah satu modal untuk mendukung keberlanjutan ekosistem desa. Menurutnya, penyediaan fasilitas konservasi air yang dibarengi keterlibatan masyarakat diharapkan mampu memperkuat ketahanan air dalam jangka panjang.
"Kami mengapresiasi semangat dan antusiasme para Srikandi," kata Wahyu.
Pengukuhan Srikandi Penyelamat Bumi juga diisi dengan penanaman pohon bersama. Cantika Wahono bersama ratusan perempuan dan tokoh masyarakat menanam beragam jenis pohon, mulai dari tanaman buah, pohon peneduh, hingga pohon tegakan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro serta Camat Kalitidu, Camat Purwosari, dan Camat Padangan. Penanaman pohon dan perawatan sarana konservasi air menjadi bagian dari upaya bersama untuk menjaga struktur tanah dan mendukung ketersediaan air tanah di Bojonegoro.