Harumkan Bojonegoro, Davinza Ardi Pratama Sabet Medallion for Excellence LKS Nasional 2026
Flyer hasil LKS Dikmen tingkat Nasional 2026 (Dok. Cabdindik Bojonegoro)

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan vokasi di Kabupaten Bojonegoro. Siswa SMKN 1 Baureno, Davinza Ardi Pratama, berhasil meraih Medallion for Excellence pada bidang Graphic Design Technology dalam ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Pendidikan Menengah Tingkat Nasional 2026.

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Bojonegoro-Tuban. Selain Davinza, kontingen wilayah Bojonegoro-Tuban juga mencatat prestasi melalui Muhammad Arjund Khaddrah dari SMK Taruna Jaya Prawira Tuban yang meraih medali perunggu pada bidang Mechanical Engineering CAD.

Plt Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Bojonegoro, Maskun melalui Kasi SMK, Unsa Hudiana, mengatakan keberhasilan peserta menembus tingkat nasional merupakan hasil pembinaan yang dilakukan secara berjenjang sejak di sekolah hingga tingkat provinsi.

"Pembinaan tetap dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Mereka dibina di tingkat sekolah, kemudian mendapat pembinaan khusus di tingkat provinsi sebelum mengikuti kompetisi nasional," ungkapnya kepada blokBojonegoro.com, Kamis (6/8/2026).

Menurut Unsa, pelaksanaan LKS Nasional tahun ini berlangsung dengan skema daring dan luring. Meski mengikuti lomba secara daring, peserta tetap ditempatkan di lokasi yang telah disiapkan di Surabaya agar seluruh fasilitas sesuai dengan standar kompetisi nasional.

"Walaupun daring, peserta tidak mengikuti lomba dari sekolah masing-masing. Mereka ditempatkan di lokasi khusus yang memiliki fasilitas lengkap sehingga pelaksanaan kompetisi berjalan optimal," jelasnya.

Ia menambahkan, Jawa Timur kembali menunjukkan dominasinya pada LKS Nasional 2026 dengan meraih perolehan medali terbanyak. Capaian tersebut didukung pembinaan yang berkesinambungan, kualitas pelatih, serta ketersediaan sarana dan prasarana.

"Peserta tidak akan bisa berkembang tanpa pembimbing yang kompeten dan peralatan praktik yang memadai. Semua itu membutuhkan dukungan biaya yang tidak sedikit," katanya.

Di sisi lain, Unsa mengakui keterbatasan anggaran menjadi tantangan yang dihadapi banyak satuan pendidikan saat ini. Menurutnya, sekolah harus semakin cermat menentukan program prioritas karena kemampuan pendanaan jauh lebih terbatas dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

"Anggaran pendidikan saat ini memang lebih terbatas sehingga sekolah harus benar-benar memprioritaskan program yang paling penting. Kondisi ini dirasakan hampir di seluruh Indonesia," pungkasnya. [feb/mad]