93 Desa di Bojonegoro Diprediksi Alami Kekeringan, BPBD Mulai Dropping Air
Ilustrasi warga Kabupaten Bojonegoro mengantre untuk mendapatkan air bersih dari BPBD Bojonegoro pada tahun 2025 lalu (Foto: istimewa)

Reporter: Rizki Nur Diansyah

blokBojonegoro.com – Memasuki musim kemarau tahun 2026, ancaman kekeringan mulai membayangi Kabupaten Bojonegoro. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro mencatat sebanyak 93 desa yang tersebar di 24 kecamatan berpotensi mengalami krisis air bersih.

Mengantisipasi kekeringan ini, BPBD Bojonegoro mulai meningkatkan langkah mitigasi dengan mendistribusikan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang mulai membutuhkan pasokan air bersih.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi mengungkapkan, potensi kekeringan tersebut merupakan hasil pemetaan dan mitigasi yang telah dilakukan sejak awal tahun.

“Sebanyak 93 desa di 24 kecamatan diprediksi mengalami kekeringan. Angka ini merupakan hasil mitigasi yang telah dilakukan BPBD Bojonegoro sejak awal tahun,” ungkap Heru, Rabu (10/6/2026).

Meski jumlah desa terdampak cukup besar, lanjut Heru, BPBD mencatat adanya penurunan dibanding tahun sebelumnya. Pada musim kemarau tahun 2025 lalu, tercatat sebanyak 106 desa di Bojonegoro mengalami kekeringan.

“Jumlah ini menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 106 desa terdampak kekeringan,” jelasnya.

Heru memaparkan, menurunnya jumlah desa rawan kekeringan tidak lepas dari meningkatnya akses layanan air bersih di sejumlah wilayah. Pembangunan jaringan air bersih oleh pemerintah desa hingga perluasan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bojonegoro dinilai cukup membantu mengurangi risiko kekeringan.

Namun, Heru menambahkan, data tersebut masih bersifat prediksi awal. Jumlah desa terdampak masih bisa berubah mengikuti perkembangan cuaca dan kondisi sumber air di masing-masing wilayah.

“Data mitigasi ini belum bisa memastikan jumlah akhir desa terdampak. Masih ada kemungkinan terjadi penambahan maupun pengurangan, tergantung kondisi di lapangan,” tambahnya.

BPBD juga mulai meningkatkan kewaspadaan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya.

“Berdasarkan prediksi BMKG, tahun ini berpotensi terjadi musim kemarau yang lebih ekstrem. Karena itu, kami memperkirakan jumlah desa yang mengalami kekeringan bisa bertambah,” ungkap Heru.

Dari total 24 kecamatan yang diprediksi terdampak, Kecamatan Sumberrejo, Kepohbaru, dan Ngasem menjadi wilayah dengan jumlah desa rawan kekeringan terbanyak.

Masyarakat pun diimbau mulai melakukan penghematan air sejak dini. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan lebih berat.

“Kami mengimbau masyarakat untuk lebih hemat dan bijak dalam menggunakan air, karena kondisi cuaca tahun ini diprediksi lebih parah dibandingkan tahun lalu,” pungkasnya.

Untuk diketahui, di awal musim kemarau ini, BPBD Bojonegoro telah mendistribusikan air bersih di Desa Deru, Kecamatan Sumberrejo dan RSUD Kepohbaru. [riz/mad]