Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Sebanyak 4.143 anak di Kabupaten Bojonegoro masuk dalam kategori Anak Tidak Sekolah (ATS). Alasan bekerja hingga menikah atau mengurus rumah tangga menjadi alasan ribuan anak tersebut, tak mengenyam di bangku pendidikan.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bojonegoro, setelah melalui proses verifikasi dan validasi (verval) terdapat total temuan awal sebanyak 6.355 anak yang tidak sekolah pada tahun 2025. Namun, 2.212 anak telah kembali sekolah.
Dari data tersebut menyebutkan, faktor anak bekerja menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan jumlah 875 anak, disusul menikah atau mengurus rumah tangga sebanyak 351 anak, serta masalah kesehatan dan disabilitas sebanyak 253 anak. Selain itu, terdapat 425 anak yang memilih tidak mau bersekolah, serta 132 anak terkendala biaya pendidikan.
Kepala Disdik Kabupaten Bojonegoro, M. Anwar Mukhtadlo mengungkapkan, pendataan ATS dilakukan lintas sektor, yakni mulai pemerintah desa, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) hingga Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro, untuk melakukan validasi identitas dan domisili.
“Pelibatan operator desa penting, karena mengetahui secara langsung kondisi warga. Terutama tempat tinggal anak, sehingga juga untuk memastikan data dan alasan mereka tidak sekolah,” ungkapnya.
Setelah itu, lanjut Mukhtadlo, data yang telah diverifikasi diklasifikasikan berdasar usia. Hasilnya dari 6.355 anak yang terdata, kemudian diverifikasi sebanyak 4.143 anak tidak sekolah, dan 2.212 anak kembali bersekolah.
“Saat pendataan, ada yang usianya 30 hingga 70 tahun. Dari usia tersebut tidak dimungkinkan kembali ke sekolah, maka yang ditangani mulai usia 6 sampai 21 tahun,” jelas Mukhtadlo.
Sebagian anak yang telah terdata kembali ke sekolah, baik di kelas reguler maupun kejar paket c. Saar ini sekolah bagi anak yang sebelumnya tidak sekolah sudah mulai berjalan aktif.
Banyak penyebab yang menjadi alasan anak tidak bersekolah. Diantaranya 875 anak berhenti sekolah karena bekerja, 351 anak tidak melanjutkan pendidikan karena menikah atau mengurus rumah tangga.
Selain itu, faktor motivasi dan persepsi terhadap pendidikan juga turut mempengaruhi. Tercatat 425 anak tidak mau bersekolah, dan 131 anak merasa pendidikan yang telah ditempuh sudah cukup. Masalah kesehatan, termasuk disabilitas, menjadi kendala bagi 253 anak, sedangkan 132 anak terkendala biaya pendidikan.
“Kemudian 1.495 anak tercatat berada di pondok pesantren, meninggal dunia, atau tidak diketahui keberadaannya, sehingga tidak lagi tercatat dalam sistem pendidikan formal,” bebernya.
Mukhtadlo menambahkan, dengan program ini anak-anak di Bojonegoro bisa kembali bersekolah, sehingga permasalahan ATS bisa terselesaikan.
“Dengan begitu anak-anak di Bojonegoro bisa mendapatkan pendidikan hingga jenjang SMA,” pungkasnya. [riz/mad]
Pemda apbd besar, daerah terkaya ayo diprogramkan mengentaskan mereka