Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Tak semua laki-laki gandrung sepak bola. Meski olahraga ini kerap disebut “hiburan sejuta umat”, sejumlah pria justru merasa tak punya ketertarikan sama sekali. Dari sisi psikologi, fenomena ini ternyata punya beberapa penjelasan menarik.
1. Preferensi Hiburan Tidak Seragam
Setiap orang punya “reward system” otak yang berbeda. Ada pria yang lebih menikmati musik, gim strategi, otomotif, atau konten edukatif dibandingkan tontonan berdurasi panjang seperti sepak bola. Rangsangan kebahagiaan mereka tak muncul dari pertandingan olahraga.
2. Tidak Tertarik pada Kompetisi yang Tidak Personal
Sebagian pria baru merasa terlibat jika punya keterikatan emosional. Jika tidak pernah bermain bola, tidak punya klub favorit, atau tak tumbuh di lingkungan pencinta bola, maka mereka sulit merasa “punya hubungan” dengan pertandingan.
3. Kecenderungan Menghindari Stres Tambahan
Menonton bola—apalagi klub favorit kalah—memicu stres emosional. Ada pria yang lebih memilih hiburan dengan risiko emosional rendah, seperti film santai atau hiburan komedi, supaya pikiran tetap rileks.
4. Pola Sosialisasi yang Berbeda
Minat pada sepak bola banyak terbentuk dari lingkungan pergaulan. Jika semasa kecil atau remaja mereka tidak berada di circle yang sering nonton atau main bola, minat itu tidak terbentuk. Akibatnya, sampai dewasa pun mereka cenderung cuek dengan pertandingan.
5. Lebih Suka Aktivitas yang Memberi Rasa Kontrol
Beberapa orang tidak suka jadi penonton pasif. Mereka lebih nyaman dengan aktivitas yang bisa dikendalikan—seperti main gim, hobi mekanik, memasak, atau olahraga individu—dibanding menonton pertandingan di mana mereka tidak punya pengaruh apa-apa terhadap hasil.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published