Pemuda Belanda dan Polandia Kaget dengan Kacang Tanah, P4S Djoyo Tani Jadi Ruang Belajar Internasional

Reporter: M. Anang Febri 

blokBojonegoro.com – Suasana sore itu tampak berbeda di green house Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Djoyo Tani Desa Bendo, Kecamatan Kapas, ketika sekelompok pemuda asal Belanda dan Polandia berkunjung untuk belajar pertanian lokal bersama peserta bootcamp smart farming. 

Mereka tidak hanya melihat greenhouse buah dan hidroponik sayur, tetapi juga diajak langsung ke sawah dan kebun untuk memahami kearifan lokal petani Bojonegoro.

[Baca Juga: https://blokbojonegoro.com/2025/09/27/mahasiswa-belanda-dan-polandia-ikut-ramaikan-bootcamp-smart-farming-di-bojonegoro/]

Fatkhul Ilma, founder P4S Djoyo Tani, menuturkan bahwa kunjungan ini menjadi pengalaman baru bagi pelajar asing.

"Mereka kaget sekali ketika tahu kacang tanah tumbuh di dalam tanah. Selama ini yang ada di bayangan mereka, kacang itu seperti buah yang bergelantungan di pohon," ujarnya sambil tersenyum.

Pengalaman menarik lainnya adalah ketika pelajar asal Belanda dan Polandia tersebut diajak ikut memanen kacang tanah dan jagung bersama petani.

"Bagi mereka, ini sesuatu yang berbeda karena di Belanda maupun Polandia panen dilakukan serba mesin. Saat melihat warga mencabut kacang tanah dengan tangan, mereka benar-benar terkejut," tambahnya.

Selain praktik lapangan, mereka juga diperkenalkan dengan sistem smart farming sederhana. Mereka belajar tentang iklim mikro, hingga manajemen greenhouse yang diterapkan untuk buah dan sayuran hidroponik.

Tak hanya belajar pertanian modern, rombongan juga berjalan-jalan menyusuri pematang sawah Desa Bendo. Mereka berkesempatan melihat berbagai tanaman lokal seperti cabai, selada, tomat, anggur, dan bawang merah yang menjadi potensi pertanian di daerah tersebut.

Menurut Ilma, kunjungan ini bukan hanya memperluas wawasan mahasiswa ataupun pelajar asing, tetapi juga memotivasi pemuda lokal. Anak-anak muda Bojonegoro yang ikut bootcamp bisa melihat bahwa apa yang mereka lakukan ternyata menarik minat mahasiswa dari luar negeri.

"Ini bukti bahwa pertanian kita punya daya tarik global," jelas laki-laki jebolan Pemuda Pelopor Nasional itu.

Kegiatan tersebut ditutup dengan sesi foto bersama di greenhouse P4S Djoyo Tani. Para mahasiswa Belanda dan Polandia mengaku antusias dan terkesan dengan keramahan warga desa serta kearifan lokal yang masih terjaga.

Bojonegoro pun sekali lagi menunjukkan diri sebagai ruang belajar pertanian yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat lokal, tetapi juga memberi inspirasi internasional. [feb/mad]