Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com – Siapa sangka, di tengah kawasan hutan yang dulunya gersang dan tak produktif, kini tumbuh ladang semangka yang hijau dan menjanjikan. Jumat pagi (22/8/2025), masyarakat Desa Ngasem memanen hasil kerja keras mereka. Ada sekitar 5 ton semangka berhasil dipetik dari lahan yang selama lima tahun terakhir mereka rawat dengan penuh ketekunan.
Panen raya ini merupakan bagian dari Program Biru Langit Jambaran Tiung Biru (BLJTB), yang dijalankan oleh Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 bersama IDFoS Indonesia, masyarakat sekitar, dan Perhutani. Program ini menggunakan pendekatan Agrosilvopastura, yaitu sistem integrasi antara kehutanan, pertanian, dan peternakan, pendekatan berkelanjutan yang tidak hanya menghidupi masyarakat, tetapi juga memulihkan fungsi ekologis hutan.
"Ini bukan hanya soal panen semangka, tapi tentang bagaimana masyarakat bisa bangkit melalui kerja sama yang baik," kata Rahmat Drajat, Manajer Comm. Relations & CID PEPC Zona 12, yang hadir langsung di lokasi panen.
Pihaknya bersyukur bisa menjadi bagian dari proses perubahan ini. Hasil hari ini menjadi bukti bahwa pendekatan berkelanjutan bisa benar-benar memberi manfaat.
Lahan yang digunakan terletak di petak 52-A1 kawasan BKPH Clangap, Perhutani KPH Bojonegoro. Sebelumnya, kawasan ini dianggap sebagai lahan kerdil karena tingkat kesuburannya sangat rendah.
Namun berkat kerja keras bersama dan pendampingan selama lima tahun terakhir, lahan seluas 11 hektare kini mulai hijau kembali. Tak hanya semangka, warga juga menanam jagung dan mengelola ternak kambing.
Menurut Joko Hadi Purnomo, Direktur IDFoS Indonesia, keberhasilan ini adalah buah dari proses panjang. Program ini dijalankan oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Ngasem Barokah dan Koperasi Ngasem Maju Sejahtera. Selain mengelola pertanian dan peternakan, mereka juga menjaga kelestarian hutan agar tetap lestari dan produktif.
"Kami mulai dari kondisi tanah yang miskin unsur hara. Tapi dengan perawatan terus-menerus dan keterlibatan warga, kini sudah mulai tampak hasilnya. Bahkan sekarang sudah ada 60 ekor kambing yang dikelola masyarakat," paparnya kepada blokBojonegoro.com disel acara panen raya.
Panen raya ini juga dihadiri oleh berbagai pihak seperti SKK Migas, Camat Ngasem Iwan Sopian, Asper Perhutani Lugianto, Kepala Desa Ngasem Suhartono, serta perwakilan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bojonegoro. Mereka memberikan dukungan moral sekaligus menyaksikan langsung hasil nyata dari sinergi yang dibangun antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.
Kepala Desa Ngasem, Suhartono, mengungkapkan harapannya agar program ini bisa terus berjalan dan diperluas.
"Masyarakat kami tidak hanya mendapatkan penghasilan tambahan, tapi juga mulai menyadari pentingnya menjaga kelestarian hutan. Ini yang kami harapkan dari awal," katanya.
Sementara itu, pihak Perhutani yang menyediakan lahan menilai bahwa program ini membawa dampak positif. Piahaknya sangat mendukung program agrosilvopastura ini karena menyentuh banyak aspek, tidak hanya pertanian tapi juga kehutanan dan peternakan.
Program Biru Langit JTB merupakan bagian dari komitmen PEPC dalam menjalankan operasi energi yang bertanggung jawab dan berbasis keberlanjutan. Dengan tetap menjalankan proyek strategis nasional di sektor gas, PEPC juga berupaya memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.
"Kolaborasi ini menciptakan harmoni antara operasional perusahaan, masyarakat, dan lingkungan. Inilah bentuk nyata dari energi berkeadilan, yang tidak hanya fokus pada produksi, tapi juga pada keberlanjutan sosial dan lingkungan," lengkap Rahmat Drajat.
Bagi warga Ngasem, semangka yang mereka panen hari itu bukan hanya buah, tetapi juga lambang dari kerja keras, kolaborasi, dan harapan yang kini mulai tumbuh di tengah hutan. [Feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published